Thursday, July 27, 2017

Sinopsis Serial India Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 1-300



Judul asli serial India ini adalah Laagi Tujhse Lagan dalam bahasa Indonesia berarti Saya Memulai Cinta Kasih. Di Indonesia serial ini ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta dengan judul Nakusha. Saya tertarik untuk menuliskan sinopsis serial ini karena memang ceritanya yang menarik dan tidak pasaran selain itu juga karena kemampuan berakting para pemainnya yang luar biasa menawan. Pemeran prianya adalah Mishal Raheja yang berperan sebagai Tuan Dutta (Dutta Bhau) dan Mahhi Vij yang berperan sebagai Nakusha.  Sinopsis ini dibuat berdasarkan jumlah episode yang tayang di India. Jumlah episode serial ini di India adalah 512 episode. Baiklah bagi yang tertarik membaca sinopsis serial ini silakan klik link di bawah ini:

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 1-9
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 10
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 11
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 12
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 13
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 14
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 15
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 16
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 17
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 18
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 19
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 20
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 21
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 22
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 23
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 24
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 25
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 26
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 27
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 28
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 29
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 30
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 31
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 32
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 33
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 34
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 35
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 36
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 37
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 38-64
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 65-82
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 83-86
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 87
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 88
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 89
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 90
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 91
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 92
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 93
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 94
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 95
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 96
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 97
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 98
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 99
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 110
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 111
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 112
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 113
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 114
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 115
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 116
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 117
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 118
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 119
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 120
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 121
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 144
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 145
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 146
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 147
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 148
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 149
Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 150









Tuesday, July 25, 2017

Kritik Sosial dalam Lenso Merah dan Putih




Judul               : Petang Panjang di Central Park
Penulis            : Bondan Winarno
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, 2016                                                  
Tebal               : 360 Halaman
ISBN               : 978-602-385-187-4

      Buku berjudul Petang Panjang di Central Park ini ditulis oleh Bondan Winarno yang lebih dikenal sebagai pakar kuliner ketimbang penulis. Tidak banyak orang yang tahu bahwa Bondan Winarno sebelumnya adalah seorang penulis sebelum terkenal sebagai pencicip makanan dalam sebuah acara televisi yang terkenal dengan jargon “maknyus”. Banyak cerpennya yang telah dimuat di majalah dan koran. Buku ini merupakan kumpulan cerpen Bondan yang pernah dimuat di berbagai koran tersebut. Melalui buku ini Bondan menyajikan berbagai masalah kehidupan yang dibumbui dengan kisah percintaan, persahabatan, rumah tangga, dan juga perbedaan. Menggunakan setting yang indah seperti di wilayah Indonesa Timur, Paris, Filipina, India, dan New York.
     Pada kisah berjudul  Lenso Merah dan Lenso Putih mengisahkan tentang cinta sepasang sejoli yang berasal dari latar belakang berbeda bernama Duon dan Hamidah. Duon adalah pemuda beragama Kristen dari Kampung Silale sedangkan Hamidah adalah seorang muslim dari Gang Banyo. Kedua desa tersebut memang saling berseteru hingga terjadi peperangan yang menelan banyak korban dari kedua belah pihak.
       Di tengah peperangan yang tengah berlangsung, Duon tertembak. Dalam kondisi kritis ia dibawa ke gereja oleh pendeta Sahalessy dan jemaah Kampung Silale. Di tengah perang tersebut Hamidah kekasihnya diselundupkan dari Gang Banyo untuk dibawa ke gereja agar bisa menemui Duon. Namun sayang kekasih yang sangat ia cintai menghembuskan nafas terakhirnya. Duon meninggal dengan lenso atau sapu tangan merah di tangannya.
     Kemudian ayah Hamidah, Haji Idris dan para pemuda Gang Banyo mendatangi gereja tempat meninggalnya Duon. Haji Idris bersalaman dengan Pendeta Sahalessy dan segera mengambil lenso merah dari tangan Duon dan mengikatnya dengan lenso putih dari tangan Hamidah. Pada akhirnya warga muslim dari Gang Banyo yang menggunakan lenso putih dan warga Kampung Silale yang menggunakan lenso merah saling berpelukan dan mengikatkan lenso merah putih di kepala mereka masing-masing. Tidak bisa merah sendiri atau putih sendiri karena merah dan putih harus bersatu (hal 311).
      Kisah ini mengajarkan akan pentingnya menjaga ikatan persaudaraan dan persatuan. Perbedaan yang ada bukanlah alasan untuk bermusuhan. Perbedaan adalah bumbu kehidupan yang seharusnya membuat kehidupan akan lebih berwarna. Kisah ini sangat sesuai dengan kondisi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia belakangan ini. Munculnya konflik antar umat beragama terjadi karena didasari faktor politis maupun superioritas beragama semata. Kisah ini mengingatkan akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Walaupun berbeda-beda tapi tetap harus bersatu.
    Cerita menarik lain dapat ditemukan pada kisah berjudul Sebuah Rumah Berdinding Batu di Kalipasar. Kisah ini menceritakan tentang orang yang serakah pada saudaranya sendiri. Omar Sadikin, seorang purnawirawan harus mengelus dada menerima perlakuan adiknya sendiri yang begitu sangat serakah dan tidak tahu diri. Niat hati membantu sang adik dengan meminjamkan rumah yang tidak ditinggali selama ia bertugas justru membuatnya kehilangan rumah tersebut. Rumah di jalan Kalipasir itu justru diakui oleh adiknya sebagai miliknya. Tak cukup merebut rumah kakaknya saja, ia juga membuat sang purnawirawan itu menjadi terdakwa. Sungguh ironi sekali kisah ini, seorang pemilik yang justru dituduh sebagai pencuri. Seorang yang sudah menolong tapi justru ditikam.
     Lagi-lagi kisah tentang ketidakadilan dan keserakahan yang diracik Bondan Winarno ini juga sesuai dengan persoalan yang terjadi sekarang di negeri ini. Beberapa kali terjadi kisah serupa ini ditengah-tengah masyarakat. Mulai dari anak menuntut ibu atau ayah kandung sendiri dengan uang tuntutan mencapai milyaran rupiah sampai orang yang tega menghabisi satu keluarga demi menguasai harta korban. Itu semua adalah bentuk dari sifat keserakahan yang dimiliki manusia. Sifat serakah yang bahkan tidak mengenal hubungan keluarga apalagi balas budi.
      Terdapat pesan dan kritik sosial dari setiap kisah yang diracik Bondan Winarno dalam buku ini. Setiap kisah disajikan dengan begitu apik dan pelajaran yang berbeda dapat diambil dari berbagai sisi. Buku ini sungguh komplet karena segala cita rasa dapat ditemukan di sini. Mulai dari cinta, kesedihan, kekosongan, penghianatan, kesetiaan, kesepian sampai luka yang tidak terperi.

Dimuat di Radar Sampit Edisi 23 Juli 2017


n

Monday, July 24, 2017

Moro dan Perjuangan Memperoleh Keadilan

Dimuat di Harian Bhirawa Edisi 27 Mei 2017




Judul               : Moro
Penulis             : M. Asad Shahab
Penerbit           : Change
Cetakan           : Pertama, September 2016                                
Tebal               : xxxvi + 346 Halaman
ISBN               : 978-602-372-085-9

      Setiap bangsa pasti menginginkan kemerdekaan untuk hidup. Hal inilah yang diperjuangkan oleh bangsa Moro selama berpuluh-puluh tahun. Bangsa Moro adalah kaum pemeluk agama Islam yang menjadi minoritas di Filipina. Mereka memperjuangkan nilai-nilai keadilan bagi kaumnya, agar mereka dapat hidup mulia dan sejajar dengan kaum mayoritas.
     Di bawah kepemimpinan Ferdinand Marcos yang diktator, bangsa Moro mengalami perlakuan diskriminatif. Mereka terpaksa berperang sekuat tenaga demi memperjuangkan hak untuk memperoleh kedamaian, kebebasan menjalankan ritual agama yang mereka yakini, menjaga keutuhan tanah leluhur, tempat di mana mereka dilahirkan. Mereka ingin mencapai hak-hak kemanusiaan seperti yang diperoleh bangsa-bangsa lainnya di dunia.
    Nama Moro sendiri tidak asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Nama tersebut sempat mencuat dalam kasus penyanderaan beberapa Warga Negara Indonesia (WNI) di Filipina oleh kelompok ekstremis Abu Sayyaf pada 2016 lalu. Front Nasional Pembebasan Moro (MNLF) yang dipimpin oleh Nur Misuari disebut-sebut telah membantu pemerintah Indonesia dalam upaya pembebasan sandera di wilayah Filipina tersebut.
       Buku ini bukanlah buku sejarah biasa karena semua yang terdapat di dalamnya merupakan hasil penelitian lapangan M. Asad Shahab selama perjalanannya di kepulauan Moro pada tahun 1978. Wartawan tiga zaman ini melakukan berbagai penelitian lapangan menelusuri wilayah-wilayah berbahaya, berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau yang lain, masuk ke hutan-hutan belantara menghampiri lokasi-lokasi perang paling mematikan, berkepanjangan, dan tidak pernah ada kata usai.
      Buku ini terbagi dua bagian, bagian pertama menyibak lembaran perjalanan penulis di beberapa pulau yang ditinggali oleh bangsa Moro, salah satunya di Pulau Mindanao. Pada tahun 1977, di pulau ini pernah terjadi berbagai peperangan paling mencekam, pertempuran itu melibatkan militer rezim diktator Ferdinand Marcos melawan milisi perlawanan bersenjata Front Nasional Pembebasan Moro. Selain itu juga terjadi peperangan Buluan yang menelan korban 500 umat muslim dalam suatu serangan mendadak, sangat brutal dan sangat menakutkan. Korban luka-luka mencapai 300 umat muslim, sebagiannya dirawat di rumah sakit darurat yang dibangun oleh Front Nasional Pembebasan Moro.
      Ini adalah salah satu dari perlakuan kejam rezim Ferdinand Marcos yang mengaku diri mereka sebagai manusia. Padahal saat itu Amerika melalui presidennya, Jimmy Carter, menyerukan kepada seluruh umat di dunia untuk menegakkan hak-hak asasi manusia kepada seluruh manusia. Sementara itu di tempat ini hak asasi manusia diinjak-injak, kehormatan manusia tercabik-cabik, bertindak secara brutal, berbuat dosa secara terang-terangan, dengan bentuk dan perilaku paling keji di seluruh dunia, diketahui dan didengar oleh semua negara beradap, di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun masalah tersebut menyita perhatian dunia Internasional dan berbagai surat kabar memberitakan krisis tersebut, namun tetap saja berbagai negara menolak berbicara secara resmi.
     Demikian dunia menyaksikan peperangan antara dua kekuatan yang tidak seimbang di segala sesuatunya, antara kekuatan Filipina yang menyerang dan kekuatan Front Pembebasan Moro yang defensif. Kekuatan Filipina memiliki segala fasilitas yang besar dan dilengkapi dengan senjata-senjata hebat dan modern. Sementara kekuatan Front Pembebasan Moro sebagai pihak yang defensif dan mempertahankan diri tidak memiliki apa-apapun dari apa yang telah dimiliki kekuatan Filipina tersebut (hlm. 90).
      Tentara Marcos melancarkan berbagai serangan mendadak melalui udara dengan melempari bom-bom dari pesawat ke kepulauan Moro. Namun, kekuatan pertahanan atau benteng yang dimiliki Front Pembebasan Moro selalu dalam kondisi siap mencegah dan menghalangi berbagai serangan tersebut. Kekuatan mereka mampu menghalau serangan yang bertubi-tubi serta beruntun yang dilancarkan oleh kekuatan Filipina. Meskipun dengan alat-alat yang seadanya, mereka tetap bisa membela diri dan mempertahankan eksistensi mereka.
      Buku yang hadir dengan gubahan sastra yang menarik ini memberikan kisah yang autentik tentang berbagai kesepakatan antara rezim Marcos dan Front Nasional Pembebasan Moro. Penulis telah menggali informasi menyangkut tipu daya dan kekejaman Marcos, sikap negara-negara Islam, dan mengenai operasi-operasi pembantaian umat muslim di Filipina Selatan. Tidak seperti buku sejarah umumnya, buku ini disusun berdasarkan fakta di lapangan, dengan bahasa yang lugas, menarik dan jujur. Buku ini mampu meluruskan polemik sejarah kemanusiaan di Filipina, mengungkap tabir perlakuan diskriminatif yang dilakukan oleh pemerintah Filipina di bawah kepemimpinan Ferdinand Marcos yang menghadirkan perlawanan bersenjata dari bangsa Moro. Isi dalam buku ini penting untuk pengetahuan akademisi yang akurat, utuh, dan objektif.

n

Friday, July 14, 2017

Menjadi Guru Kreatif Perlu Banyak Belajar



Judul : Gurunya Manusia
Penulis : Munif Chatib
Penerbit         : Kaifa
Cetakan         : September, 2016
Tebal : 260 Halaman
ISBN : 978-602-0851-45-7

       Liburan sekolah akan segera usai dan sebentar lagi tahun ajaran baru akan dimulai. Semua anak mulai dari tingkat SD sampai SMA akan kembali masuk sekolah. Di tahun ajaran baru bukan hanya murid saja yang harus bersemangat untuk menyambutnya tapi juga para guru. Buku berjudul Gurunya Manusia ini bisa dijadikan panduan bagi para guru dalam mengajar di tahun ajaran baru karena di dalamnya terdapat strategi mengajar yang bisa diterapkan oleh para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.
     Jamak dijumpai di lapangan bahwa guru hanya menyampaikan materi saja di dalam kelas dan murid cenderung hanya menghafalkan materi yang sudah diajarkan saja. Proses pembelajaran bersifat kaku dan membosankan. Proses pembelajaran yang demikian itu tidak akan cukup mampu menghasilkan generasi penerus bangsa yang tangguh di masa depan. Guru adalah tokoh central dalam dunia pendidikan sehingga memiliki peran penting dalam kemajuan sebuah bangsa. Kemampuan akademis murid memang penting, namun tugas guru tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan akademis murid. Guru juga memiliki tugas menjadikan calon-calon penerus bangsa tumbuh menjadi manusia yang bernurani dan manusiawi.
       Melalui buku ini Munif Chatib menjelaskan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki dan diterapkan oleh guru. Pertama adalah kompetensi pedagogi di mana guru harus memiliki kemampuan untuk mengelola pelajaran siswa dengan kreatif. Guru harus memahami karakter siswa karena setiap anak istimewa dan memiliki karakternya sendiri. Selain itu kadar kemampuan siswa dalam menerima materi juga harus diperhatikan guru dalam merancang pembelajaran yang menyenangkan. 
        Kedua adalah kompetensi kepribadian di mana guru harus memiliki pribadi yang mantap, stabil, arif, dan bijaksana untuk menjadi teladan bagi para muridnya. Dalam sebuah pepatah jawa dipaparkan guru digugu lan ditiru sehingga mereka harus bisa memberikan teladan yang positif. Kompetensi ketiga yang harus dimiliki guru adalah profesional yang berarti guru harus menguasai materi secara mendalam sehingga bisa membimbing siswa sesuai kurikulum dan mengembangkan cara ajar yang kreatif dan inovatif. Yaitu menggabungkan sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang belum pernah ada. Pembelajaran yang kreatif tentu akan mampu menciptakan ide-ide kreatif yang berkualitas. 
     Terakhir adalah kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru dalam bergaul secara luas dalam bermasyarakat sehingga guru bisa bergaul secara baik terhadap murid-muridnya, tenaga pengajar lain, dan masyarakat luas. Semua kompetensi tersebut wajib dimiliki dan diterapkan oleh para guru. Ketika guru sudah memahami dengan benar tentang pentingnya empat kompetensi ini maka mereka akan menjadi sosok guru yang profesional, guru yang bisa menerapkan tugas dan fungsi guru dengan baik. 
    Selain harus memiliki keempat kompetensi tersebut, guru juga harus memahami tentang bagaimana agar guru tidak hanya menjadi guru profesional saja, tapi juga seorang guru yang menyenangkan yang bisa mengemong dan membuat semua murid merasa nyaman, tidak merasa terintimidasi. Terkadang guru bersikap menuntut dan menghakimi muridnya. Ketika murid belum memahami pelajaran yang diajarkan maka yang disalahkan adalah murid. Murid dianggap tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru atau menganggapnya malas belajar. Hal tersebut tentu akan membuat murid merasa tidak percaya diri dan menganggap bahwa dirinya memang bodoh dan malas seperti yang dituduhkan kepadanya. 
      Ketika murid belum mendapatkan nilai atau hasil yang baik, sudah menjadi tugas guru untuk memotivasi agar mereka tetap optimis dan mau belajar. Bisa jadi murid belum paham karena metode yang diterapkan oleh guru dalam mengajar tidak sesuai dengan karakter siswa. Sekadar mencatat saja atau mungkin menghafal saja tentu sangat membosankan. Kembali lagi, setiap murid memiliki karakter berbeda, ada yang mudah belajar melalui visualisasi dan adapula yang mudah memahami melalui audio. Dalam mengajar, seyogyanya guru pandai mengambil hati murid, sehingga mereka tertarik dan bersemangat dalam belajar (hal. 81). 
       Strategi multiple intelegences, yaitu gaya mengajar guru yang disesuaikan dengan gaya belajar murid bisa diterapkan agar bisa mengenal karakter setiap murid lebih baik. Melalui strategi ini guru dapat menentukan metode apa yang akan diterapkan kepada anak didiknya tersebut. Momentum tahun ajaran baru merupakan saat yang tepat untuk memperbaiki metode mengajar guru dan cara belajar para murid sehingga mampu menumbuhkan semangat berbagi ilmu dan menuntut ilmu.


Dimuat di Koran Jakarta Edisi 14 Juli 2017


n

Sunday, June 25, 2017

Manajemen Waktu Merupakan Kunci Utama Kesuksesan




Judul               : Trik Juara Mengatur Waktu
Penulis            : Zivanna Letisha
Penerbit           : Gagas Media
Cetakan           : Pertama, 2016                                                  
Tebal               : 212 Halaman
ISBN               : 979-780-858-0

      Kemampuan mengelola waktu menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam hidup. Jatah waktu setiap orang di dunia ini sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, dan 365 hari setiap tahunnya. Dengan jumlah waktu yang sama namun bisa menghasilkan hasil yang berbeda. Ada pengusaha yang mampu membesarkan perusahaannya dalam 2 tahun tetapi juga ada orang yang dalam 2 tahun tidak mengalami kemajuan apapun. Ada mahasiswa yang mampu menyelesaikan pendidikan sarjanannya dalam 4 tahun namun ada juga yang butuh 6 tahun untuk menjadi sarjana. Dalam kondisi seperti inilah kreativitas dan keterampilan dalam mengelola waktu menjadi kuncinya. Manajemen waktu merupakan langkah utama untuk memulai mengidentifikasi bagaimana seseorang menghabiskan waktunya.
      Terkadang kita merasa seperti tidak punya cukup waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sehingga hal ini menimbulkan rasa kewalahan. Untuk itu buku karya Zivanna Letisha, mantan Putri Indonesia tahun 2008 ini akan membahas secara komprehensif tentang bagaimana mengatur waktu agar lebih efektif. Orang-orang yang sukses baik dalam karir maupun kehidupan rumah tangganya tentu mereka mampu mengelola waktunya dengan baik.
       Menurut data dari Global Web Index, masyarakat dunia yang paling banyak menghabiskan waktu di dunia maya adalah negara-negara Asia Tenggara yaitu lebih dari 5 jam dalam sehari. Masyarakat Indonesia sendiri menghabiskan 2 sampai 3 jam di sosial media seperti Facebook dan Twitter. Dagfinn Aas, seorang peneliti tentang penggunaan waktu membagi waktu dalam 4 kategori dalam sehari. Pertama adalah contracted time, yaitu waktu yang sudah ditentukan dan berkaitan langsung dengan performa pekerjaan. Misalnya kita les selama 2 jam tiap 2 kali seminggu. Kedua commited time, yaitu waktu yang berhubungan dengan kewajiban seseorang pada keluarga dan kepentingan rumah tangga. Contohnya mengantar ibu ke pasar.
       Berikutnya adalah necessary time, waktu yang digunakan untuk kepentingan diri sendiri seperti makan, tidur, mandi, dan berolahraga. Necessary time ini biasanya memiliki porsi lebih banyak karena tidur ada di dalamnya. Terakhir adalah free time, waktu ini bukan berarti untuk digunakan bermalas-malasan. Waktu ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan rencana yang sudah dibuat jauh-jauh hari.
      Adapun masalah yang sering dialami dalam mengatur waktu adalah lazy panda alias malas. Malas merupakan penyakit akut yang dialami oleh semua orang. Orang merasa malas karena dalam hidupnya ia belum menemukan apa yang benar-benar mereka ingin lakukan. Busy bee atau sibuk juga menjadi problem dalam mengelola waktu. Selain itu juga kebiasaan suka menunda-nunda pekerjaan sehingga pekerjaan menjadi keteteran.
       Penulis memberikan 3 cara mudah memulai untuk produktif. Pertama mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri maka akan tahu tujuan yang ingin diraih dan tahu apa yang harus dilakukan. Kedua, berani mengatakan “tidak” pada suatu hal yang bukan menjadi tujuan dan prioritasnya. Terakhir, bisa menentukan prioritas. Caranya dengan membiasakan membuat jadwal harian sehingga tahu apa yang akan dilakukan dalam satu hari itu. Dengan cara seperti ini maka mana yang menjadi prioritas dapat ditentukan.
        Dalam buku ini penulis juga memberikan “formula-formula rahasia” agar bisa produktif dalam waktu yang seminimal mungkin. Salah satunya adalah the champion hour. Berdasarkan penelitian dari Universitas Toronto, sebuah pekerjaan akan efektif bila dikerjakan selama 52 menit dan beristirahat selama 17 menit. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa 10% dari karyawan yang performa kerjanya paling baik di perusahaan ternyata yang tidak bekerja lembur. Mereka justru yang bekerja kurang dari waktu yang seharusnya, yaitu 8 jam dari jam 9 pagi sampai 5 sore (hal 181).
       Seperti quote dari Michael Altshuler yang merupakan seorang psikolog dunia pada halaman 60 buku ini “The bad news is time files. The good news is your’re the pilot”. Kita tidak hidup dalam jam dinding yang berpatokan pada angka. Real time yang akan berbicara lebih banyak, kesuksesan seseorang diukur dari seberapa besar efek yang diberikan atas tiap-tiap kegiatan yang dilakukan.
Buku ini bisa dijadikan panduan pembaca dalam mengelola waktu sehingga setiap menitnya menjadi lebih bermakna. Banyaknya data pendukung seperti dari berbagai hasil penelitian para ahli maupun survey yang penulis lakukan akan menjadi nilai tambah buku ini.


n