Thursday, December 10, 2015

Berlibur Gratis ke Negeri K-Pop

  
  
Judul                : Jalan-Jalan ke Korea dengan Gratis  
Penulis             : Mutiara Hikma Mahendradatta & Intan Carizdone
Penerbit           : Laskar Aksara
Cetakan           : Februari, 2015
Tebal               : 124 Halaman
ISBN               : 978-602-1137-33-8 

   Pesona Negeri K-Pop memang tiada habis-habisnya menghipnotis masyarakat Indonesia maupun dunia. Baik dari segi budaya, bahasa, drama,  musik, teknologi hingga pariwisata mampu membuat para traveller dari negara lain terpesona dan bermimpi suatu hari bisa jalan-jalan ke sana untuk berwisata. Namun bagi masyarakat Indonesia yang tidak mempunyai banyak dana tentu tidak mudah untuk mewujudkan mimpi jalan-jalan ke Korea. Banyak yang berpikir bahwa jalan-jalan ke Korea pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
      Buku Jalan-Jalan ke Korea dengan Gratis ini akan memandu para traveller yang  bermimpi untuk jalan-jalan ke Korea dengan biaya murah bahkan sampai gratis. Buku ini berisikan tentang cara-cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan mimpi jalan-jalan ke Korea tanpa biaya. Berbagai tempat wisata di Korea yang bisa dipilih oleh para treveller disuguhkan dalam buku ini dilengkapi dengan gambar dan foto-foto yang mampu membuat pembaca membayangkan keindahannya.
      Keindahan alam di Korea yang sangat tersohor dan mempesona membuat siapa saja yang mempunyai jiwa traveller ingin berkunjung ke Korea. Melalui buku ini penulis mencoba membagikan cara-cara untuk bisa berwisata gratis ke Korea, mulai dari cara mendapatkan tiket gratis, memilih penginapan murah dengan berbagai fasilitas tambahan gratis sampai hunting tiket gratis untuk masuk destinasi wisata di Korea Selatan. 
       Salah satu cara untuk jalan-jalan ke Korea dengan gratis adalah dengan mengikuti kuis, biasanya kuis gratis ke Korea ini dari organisasi KTO (Korean Organization Tour) yang menawarkan wisata gratis ke Korea dengan meng-cover biaya akomodasi dan biaya hidup selama di Korea. Bagi yang menyandang status mahasiswa, ada cara lain yang bisa ditempuh bila ingin ke Korea dengan gratis. Salah satunya adalah mendaftar program pertukaran pelajar ke kampus-kampus yang menawarkan beasiswa pertukaran pelajar. Pemerintah Korea sedang gencar-gencarnya menjaring mahasiswa exchange dengan beasiswanya yang lumayan besar, sebesar 8-10 juta rupiah per bulan (halaman 13-14).
      Mencari tempat wisata di Korea juga harus disesuaikan dengan musim karena negeri ginseng ini menawarkan festival yang berbeda tiap musimnya. Korea Selatan mempunyai 4 musim yang terdiri dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Di musim semi beberapa tempat wisata yang bisa dipilih adalah Stasiun Gyenghwa yang selalu ramai dikunjungi wisatawan, Seopjikoji di Pulau Jeju dengan pemandangannya yang sangat indah, Boseong yang merupakan daerah penghasil green tea, dan The Garden of Morning Calm.
      Di musim panas bisa melihat matahari terbit di Seongsan dan menikmati Pantai Hyeopjae yang terletak di Pulau Jeju atau Cheongdo Bull Fighting Festival yang mirip dengan adu ayam atau adu sapi di Indonesia. Pulau Nami yang menjadi lokasi shooting drama “Winter Sonata” menjadi destinasi wisata yang dapat dipilih ketika memilih berlibur ke Korea pada musim gugur. Pada musim dingin destinasi wisata yang tidak boleh terlewatkan adalah Gunung Seorak, Bangwhasuryujeong di Suwon Hwa Seong, dan salju di Gunung Taebaek yang menjadi lokasi ski terbaik di Korea Selatan.
      Sebelum mengatakan I’m  ready to go ada beberapa hal yang harus dipersiapkan mulai dari persiapan dokumen seperti paspor, visa, tiket pesawat dan rencana perjalanan. Selain itu perlu tahu tips dan trik penting yang bisa digunakan ketika tinggal di Korea seperti cara naik transportasi umum baik subway maupun bus yang menggunaka T-Money untuk pembayarannya.
       Untuk yang beragama Islam tak perlu khawatir untuk mencari makanan halal di Korea. Di Korea sudah banyak restoran yang menjual makanan halal untuk wisatawan muslim. Itaewon yang merupakan daerah di wilayah Seoul adalah salah satu tempat yang paling tepat untuk mencari makanan halal dengan mudah (halaman 62). Tak hanya makanan halal saja yang mudah ditemukan di sana, masjid pun bisa dengan mudah dijumpai di Korea. Sebab di Korea juga ada beberapa masjid besar dan mushola Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Masjid Al-Mujahidin di Incheon, Masjid Al-Fatah Dusil di Busan, dan Mushola Al-Falah Guro di Seoul.
     Gaya bahasa penulis yang cukup santai membuat buku ini mudah dipahami. Buku ini dapat dibaca oleh siapa saja yang ingin jalan-jalan ke Korea dengan biaya murah bahkan sampai gratis. Buku ini juga disertai kata-kata bahasa Korea yang sering digunakan oleh turis sehingga dapat digunakan sebagai panduan para traveller yang tidak fasih berbahasa Korea. 

Peresensi: Tanti Endarwati, Pecinta baca buku yang tinggal di Yogyakarta

Monday, November 30, 2015

Orang Korea Belajar Bahasa Indonesia

Banyak orang Korea Selatan datang ke Indonesia untuk belajar Bahasa Indonesia, bukan tanpa alasan orang dari negeri ginseng ini belajar Bahasa Indonesia. Mereka termotivasi belajar Bahasa Indonesia umumnya didorong oleh faktor pekerjaan. Sebagian besar dari orang Korea ingin menguasai Bahasa Indonesia karena mereka di Korea Selatan bekerja sebagai pemandu wisata untuk wisatawan Indonesia yang berlibur ke Korea Selatan. 
Pasca tsunami yang terjadi di Jepang 2011 silam, jumlah turis Jepang yang datang ke Korea Selatan terus menurun dikarenakan tingkat perekonomian negeri sakura ini melemah sebagai dampak gempa yang disertai tsunami dahsyat yang meluluh lantahkan kawasan pantai timur Pulau Honshu, Jepang pada 2011 silam. Berkurangnya tingkat kunjungan turis Jepang ke Korea justru berbanding terbalik dengan turis dari Indonesia yang berkunjung ke Korea untuk berwisata. 
Semakin hari banyak masyarakat Indonesia yang memilih menghabiskan liburan di Korea Selatan karena ketertarikan orang Indonesia dengan budaya Korea Selatan yang akhir-akhir ini sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Hal inilah yang mendorong banyak pemandu wisata di Korea  untuk belajar Bahasa Indonesia sekaligus budaya Indonesia langsung di negeri ini. Salah satu yang menjadi tempat mereka belajar bahasa Indonesia adalah LPK Hangeul Yogyakarta yang terletak di jalan Gejayan CT X No. 19, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.


Mr. Jae Hee Won dan Park Mika saat belajar bahasa Indonesia di LPK Hangeul Yogyakarta

     Tak hanya yang bekerja sebagai pemandu wisata saja yang belajar Bahasa Indonesia di LPK Hangeul ini, seorang pengusaha sukses  bernama Jae Hee Won yang memiliki beberapa perusahaan di Korea yang memproduksi wig dan lipstic pun belajar Bahasa Indonesia di sini. Alasannya karena pengusaha ini sedang membuka perusahaan baru di Purbalingga Jawa Tengah, sehingga menurutnya perlu untuk belajar Bahasa Indonesia. Ada juga seorang pengusaha restoran bernama Han Jeong Hee yang berminat menguasai Bahasa Indonesia karena ingin membuka restoran di Yogyakarta, setelah mengetahui kakaknya yang lebih dulu membuka restoran Korea di kawasan Jakarta sukses dengan bisnisnya. 
      Belajar Bahasa Indonesia tentu bukan hal yang mudah bagi orang Korea karena pola kalimat Bahasa Indonesia berbeda dengan pola kalimat dalam Bahasa Korea. Pola kalimat Bahasa Indonesia adalah SPOK sedangkan pola kalimat Bahasa Korea adalah KSOP sehingga mereka sering terbalik dalam membuat susunan kalimat Bahasa Indonesia. Selain itu bahasa Indonesia bukan merupakan bahasa ibu bagi mereka. 
Namun dengan kemauan keras untuk bisa, bukan hal yang mustahil bagi mereka bisa menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Perlu kita hargai usaha mereka itu karena disaat orang Indonesia menggandrungi negeri mereka tapi mereka justru sibuk belajar Bahasa Indonesia demi menunjang pekerjaan mereka.

Sunday, October 4, 2015

Banyak Jalan Mewujudkan Belajar di Negeri Orang

  
Judul : Jurus Kuliah ke Luar Negeri
Penulis : Miftachudin Arjuna, dkk
Penerbit : Inspira
Cetakan : I, Juni 2015
Tebal : 302 Halaman
ISBN : 978-602-0829-26-5

Harga : Rp 147.000,-

     Pada dasarnya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa kuliah ke luar negeri. Banyak mahasiswa yang dulu biasa-biasa saja, akhirnya mampu mewujudkan mimpi kuliah ke mancanegara. Contoh, kisah Miftachudin Arjuna, seorang anak tukang batu mampu meraih beasiswa S2 di University of Manchester Inggris (halaman 55). 
     Miftachudin percaya “what you believe, you can achive. There is a will, there is a way.” Baginya, ilmu pengetahuan kunci meningkatkan derajat dan kualitas hidup manusia. Itulah beberapa motivasi yang mendorongnya terus semangat menuntut ilmu. Hal ini tidak mudah baginya. Untuk bisa kuliah S1 dia harus menunggu 2 tahun untuk mencari biaya. Apa pun dijalani, mulai dari menjadi kuli sampai tukang ketik. 
     Penghasilannya ditabung untuk biaya masuk perguruan tinggi. Akhirnya tahun 2002, dia bisa mulai kuliah sambil bekerja sesuai dengan strateginya. Tahun 2002 itulah titik awal Miftachudin membangun mimpi kuliah ke luar negeri (halaman 58). 
    Melalui buku ini, kelima penulis yang terdiri dari Miftachudin Arjuna, Zulkhan Indra Putra, M. Izdiyan Muttaqien, Adi Atiasa, dan Stevan Chondro mencoba menyadarkan pembaca bahwa mimpi itu harus diperjuangkan. Banyak orang memiliki mimpi kuliah di negeri orang, namun menyerah sebelum benar-benar berusaha meraihnya. Beberapa di antaranya karena tidak tahu harus memulai dari mana. 
   Buku ini menjawab kebingungan tersebut. Para penulis memandu pembaca mulai dari nol, tidak tahu apa pun tentang kuliah di negeri manca, saat tinggal, dan memerangi kerinduan ataupun culture shock sampai persiapan pulang kembali ke Indonesia. Tips penulisan Curriculum Vitae dan contoh Motivation Letter baik melalui jalur beasiswa maupun biaya sendiri juga disajikan. 
   Beasiswa bukanlah satu-satunya jalan untuk bisa kuliah ke luar negeri. Banyak negara menggratiskan biaya kuliah atau sangat murah seperti Jerman. Cara lain mendapatkan dana tanpa beasiswa dengan bekerja paruh waktu, memanfaatkan pinjaman (student loan), dan sumbangan individu potensial (halaman 149-162).
   Buku juga dilengkapi formulir-formulir yang harus diisi sehingga membuat pembaca selangkah demi selangkah mendekati mimpinya kuliah ke luar negeri. Selain itu, semua informasi bisa langsung dipraktikkan. Ada juga 9 ebook dan 219 video interview. Jadi, jangan khawatir, banyak jalan menuju Roma. Banyak alternatif mewujudkan mimpi belajar di negeri orang. Mulai saja!

Dimuat di Koran Jakarta 5 Oktober 2015