Sunday, March 20, 2016

Difabel pun Mampu Berprestasi





Judul : 50 Superstars Diffable Pengukir Sejarah Dunia dan Penginspirasi Dunia
Penulis : Alexia Fitriani
Penerbit : Scritto Book Publisher
Cetakan : Pertama, April 2015
Tebal : viii + 176 halaman
ISBN : 978-602-1659-54-0 

    Banyak anggapan bahwa seorang penyandang cacat tidak mampu melakukan banyak hal secara mandiri dan selalu bergantung pada bantuan orang lain. Namun 50 kisah hidup para difabel dalam buku berjudul 50 Superstars Diffable Pengukir Sejarah Dunia dan Penginspirasi Dunia ini mematahkan anggapan tersebut. Faktanya penyandang difabel pun mampu berprestasi dan mampu melakukan banyak hal layaknya orang normal.
      Nick Vujicic, pria asal Australia ini harus menerima nasibnya terlahir tanpa tangan dan kaki. Nick hanya memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Kondisi fisik yang seperti ini sempat membuatnya ingin bunuh diri. Namun karena cintanya kepada orang tua ia mulai bangkit dari keterpurukan dan mampu menjadi motivator kelas dunia. Hingga kini Nick telah berbicara di hadapan lebih dari 3 juta orang dari 24 negara di lima benua.
     Seorang komponis zaman klasik yang paling berprestasi, Ludwig van Beethoven adalah seorang  tunarungu. Meskipun sempat ingin mengakhiri hidupnya namun Beethoven mampu bangkit lagi. Ia mampu menggubah banyak karya terkenal dunia meskipun tuli. Musik klasik karya Beethoven pun masih dikenal dan dinikmati orang sampai sekarang.
    Menjadi diffable juga harus dialami Habibi Afsyah. Pria kelahiran Jakarta ini kehilangan fungsi motoriknya akibat mengidap penyakit langka. Namun dengan kerja keras, pengorbanan, dan dukungan dari ibunya di usia 21 Habibi sudah mendirikan Yayasa Habibi Afsyah untuk mengangkat kehidupan para difabel seperti dirinya. Habibi juga menjadi pembicara seminar internet marketing di kampus-kampus. Puncaknya Habibi diundang pada acara Kick Andy di Metro TV pada episode Kasih Tiada Bertepi (hal. 56).
     Terlahir dengan fisik yang tidak sempurna juga dialami Putri Herlina dari Yogyakarta. Meskipun tidak mempunyai tangan namun Putri mampu menjadi orang yang sangat luar biasa. Putri mampu memberi manfaat bagi orang lain dengan menjadi relawan di Yayasan Sayap Ibu di Yogyakarta. Ia bekerja layaknya orang biasa seperti mengetik dan juga menulis undangan. Kebahagiaannya semakin bertambah ketika pada tanggal 13 Oktober 2013 anak seorang mantan kepala Bank Indonesia yang bernama Reza Soemantri mempersuntingnya (hal. 89).
      Sedangkan Presiden negara adidaya Amerika Serikat (AS) ke-32 Franklin Delano Roosevelt adalah seorang yang lumpuh. Ia lumpuh sebelum dilantik jadi Presiden Amerika Serikat. Namun ia tercatat sebagai salah satu tokoh abad ke-20 dan menempati urutan ketiga dalam sejarah kepresidenan Amerika Serikat (hal. 111). Presiden Roosevelt yang cacat fisik memilih terus bergerak bahkan kekurangan fisik yang menghambat tak mampu menghalangi langkahnya.
     Meskipun mereka semua punya keterbatasan fisik namun mereka mampu memukau dunia dengan prestasi. Mereka tidak membiarkan kondisi fisik yang tidak sempurna melemahkan semangat mereka untuk berprestasi. Mereka mampu menghancurkan benteng penghalang dan menjadi sukses dengan cara mereka yang tidak biasa.
       Buku ini mengajak pembaca untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah dimiliki melalui kisah-kisah luar biasa para difabel dunia. Selain itu buku ini mampu menginspirasi pembaca untuk meraih cita-cita meski dalam keterbatasan. Semua orang mempunyai peluang yang sama untuk bisa sukses dan berprestasi karena segala keterbatasan mampu ditembus dan tidak ada alasan bagi seseorang untuk menghentikan cita-cita. Tekun, semangat, dan pantang menyerah itulah kuncinya. 

Dimuat di Tribun Jogja Edisi 20 Maret 2016