Friday, August 25, 2017

Hasrat dan Kekuasaan dalam Rezim Kepastian

Dimuat di Harian Bhirawa Edisi 25 Agustus 2017





Judul           : Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis
Penulis        : Haryatmoko
Penerbit      : Kanisius
Cetakan      : Pertama, 2016                                   
Tebal          : 158 Halaman
ISBN          : 978-979-21-4561-8

    Buku yang ditulis oleh Haryatmoko, lulusan dari Universitas Sorbone Paris ini mengulas tentang pemikiran enam filsuf Perancis yaitu Michael Focault, Pierre Bourdieu, Jean Baudrillard, Paul Ricoeur, Gilles Deleuze, dan Jacques Derrida. Pemikiran keenam filsuf penting Perancis ini merupakan salah satu corak berpikir kefilsafatan yang merupakan aspek dekonstruktif yang bekerja dengan mempertanyakan suatu perspektif tertentu yang sudah cukup jelas untuk dikritik, digugat maupun dibongkar.
     Penulis mengaitkan rezim kepastian dengan hasrat dan juga kekuasaan. Menurut Filsuf Michael Focault yang banyak mengemukakan gagasan yang berhubungan dengan relasi kuasa dan pengetahuan menjelaskan bahwa kekuasaan itu sangat mempesona sehingga ia rela menderita demi mendapatkan kekuasaan itu. Saat ini kekuasaan diidentikkan dengan negara sehingga kekuasannya bersifat terpusat sementara menurut Foucault kekuasaan itu bersifat menyebar dan produktif. Sifatnya yang menyebar itulah yang membuat kekuasaan melibatkan banyak pihak.
      Pada masa dulu, kekuasaan sering dikaitkan dengan perang atau aturan dalam bentuk perintah maupun larangan. Bagi Foucault tidak demikian karena baginya kekuasaan itu dapat berwujud dalam relasi antara pasien dan kliennya, tes wawancara di sebuah perusahaan, atau berupa jajak pendapat. Dari hubungan-hubungan seperti itu, kekuasaan yang beroperasi akan menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan inilah yang kemudian akan dikembangkan. Pada akhirnya pengetahuan ini akan ikut berperan dalam pembentukan individu yang modern. Dari situ, didefinisikanlah hal yang normal dan hal yang tidak normal (hal 17).
     Untuk mendapatkan kekuasaan dibutuhkan modal berupa kapital-kapital untuk mewujudkannya. Terdapat empat kapital utama yang dikelompokkan oleh Bourdieu yaitu kapital ekonomi, kapital budaya, kapital sosial, dan yang terakhir kapital simbolik. Kapital ekonomi diukur secara finansial. Kapital ini merupakan kapital yang paling mudah dikonversikan ke dalam bentuk lain. Namun kapital ini oleh masyarakat kelas atas sengaja dipatenkan sehingga membuat masyarakat kelas menengah bawah akan kesulitan untuk mencapai kekuasaan tersebut.
      Kapital budaya contohnya adalah berupa pengetahuan. Menurut Bourdieu, sekolah merupakan sumber dari kesenjangan sosial. Untuk membuktikannya hal itu mudah, cukup melihat prosentase latar belakang orang tua yang menguliahkan anak-anaknya di jurusan favorit di kampus favorit. Jurusan tersebut pasti didominasi oleh mereka yang berlatar belakang menengah atas. Orang dengan pengetahuan yang tinggi akan memiliki kesempatan untuk berkuasa sehingga jelas bahwa kekuasaan yang diinginkan sudah dapat dipastikan sejak awal.
      Sementara kapital sosial adalah yang menentukan selera dan hasrat. Hasrat sangat diperlukan untuk mempertahankan sebuah kekuasaan karena hasrat mempengaruhi pola konsumsi seseorang. Dalam mengkonsumsi sesuatu, mereka yang masuk kelas menengah atas cenderung bukan hanya berdasarkan kebutuhan melainkan berdasarkan cara mempertahankan kelas mereka.
    Jean Baudrillard mengatakan bahwa hasrat untuk mengonsumsi suatu barang biasanya dilakukan setelah orang tersebut memperoleh pengaruh manipulasi tanda. Ia berpendapat bahwa model iklan yang berprofesi sebagai public figure lebih memiliki dampak yang besar dalam manipulasi tanda. Contoh, saat seorang model cantik memakai pemutih wajah dan wajahnya tampak cerah berseri maka banyak orang tertarik membeli produk tersebut. Padahal, kulit model tersebut memang sudah cantik tanpa memakai produk yang diiklankan.
       Baudriallard berpendapat bahwa manusia modern terjebak dalam rimba tanda yang merupakan reduksi dari realitas. Mereka mengambil keputusan dengan dipandu oleh aturan tanda, baik itu dilakukan demi mendukung posisi kelasnya maupun untuk mengafirmasi hidup dan identitas mereka. Itulah mengapa dia meletakkan fenomena konsumsi manusia modern dalam kerangka “manipulasi tanda”. Memang pada titik ini, konsumsi telah mendorong mereka untuk menjadi individualistis. Mereka lebih mengutamakan pemenuhan hasrat mereka terhadap barang atau jasa tertentu dan hal ini makin lama akan membuat rasa solidaritas hilang (hal 71).
     Dengan menguasai keempat kapital tersebut membuat individu terdorong untuk melakukan aktivitas yang secara sosial membedakan dirinya dari masyarakat lainnya, baik itu dalam kelas sosial yang sama maupun dengan anggota masyarakat dari kelas sosial lainnya. Hal ini tanpa sadar akan membuat individu tersebut menerapkan strategi kekuasaan pada level simbolik. Strategi ini selalu berhasil menindas yang lemah atau pihak-pihak yang termarginalkan karena ketiadaan akses untuk mencapai kapital-kapital tersebut. Melalui buku ini pembaca diajak untuk menggunakan analisisnya apakah kepastian akan membuat seseorang bahagia seperti yang semua orang harapkan atau tidak. Selamat membaca!

Dimuat di Harian Bhirawa Edisi 25 Agustus 2017
Halaman 4

k

Sunday, August 20, 2017

Ninevelove, Romansa Cinta Meluruhkan Benci

Dimuat di Satelitpost Edisi 20 Agustus 2017



Judul           : Ninevelove
Penulis        : J. S. Khairen
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan      : Pertama, 2016                                   
Tebal          : 326 Halaman
ISBN          : 978-602-03-3418-9

   Ninevelove dipilih sebagai judul novel J. S. Khairen yang mengusung tema percintaan dan persahabatan ini. Judulnya memang terdengar sangat unik sehingga membuat pembaca penasaran dengan isinya. Namun buku ini tidak hendak menceritakan tentang surat cinta seperti yang terpikirkan begitu melihat judulnya. Penulis yang sebelumnya telah menulis buku berjudul Karnoe (2013), Bunda Lisa (2014), dan 30 Paspor di Kelas Sang Profesor (2014) ini mencoba menuangkan cerita percintaan remaja masa kini. Lebih tepatnya tentang kebencian seorang remaja bernama Dewi Cantika Mayasari yang merupakan seorang mahasiswi yang aktif dalam organisasi di bidang pers dan jurnalistik di kampusnya dengan seorang mahasiswa bernama Joven Sayoeti Chaniago.
    Novel ini memaparkan tentang kebencian yang berujung menjadi cinta. Dewi memang tanpa alasan membenci Joven sehingga bisa dipastikan setiap mereka bertemu selalu timbul adu mulut hingga membuat Dewi tidak ingin berlama-lama berada di tempat yang sama dengan Joven. Bagi Dewi setiap perkataan yang diucapkan Joven terdengar sebagai ejekan. Di sisi lain mahasiswa bernama Guruh mendapatkan tempat khusus di hati Dewi meskipun ia bersikap cuek terhadap dirinya.
       Dewi sendiri digambarkan sebagai tokoh yang sederhana berasal dari Jawa Tengah sehingga aksen bicaranya kental dengan logat jawa yang khas. Sementara Joven yang berdarah Minang digambarkan sebagai sosok anak band dengan kepribadian yang santai. Mereka berdua sama-sama tergabung dalam organisasi Tinta Kampus di kampus mereka. Hal inilah yang membuat mereka berdua terpaksa sering bertemu. Joven ingin bergabung dengan organisasi ini karena ingin mndekati mahasiswi baru bernama Dinda. Joven sendiri tidak tahu pasti apa alasan Dewi begitu membenci dirinya. Namun ia tidak terlalu memikirkan hal itu karena misinya bergabung di Tinta Kampus hanya satu yaitu untuk mendapatkan cinta Dinda.
      Joven begitu menginginkan Dinda sementara Dewi begitu menginginkan Guruh dan sangat membenci Joven. Namun pada akhirnya semua justru berubah sebaliknya. Hati Dewi mulai luruh dan terbuka untuk Joven saat Joven membantunya ketika ia dihipnotis dan uang yang akan digunakan untuk membeli jilbab dicuri. Dewi mulai berteman dengan Joven dan kebenciannya perlahan-lahan pudar. Ia menyadari bahwa semua keburukan Joven yang ia lihat selama ini hanyalah pandangan orang lain saja. “Hati wanita adalah palung laut yang terdalam dan memiliki banyak misteri. Satu kastil yang telah ia bangun sekuat tenaga untuk menyelamatkan hatinya sendiri, hancur hanya dengan satu pendapat orang tak bertuan.” (halaman 300).
      Romansa cinta dalam novel ini bukan lagi kisah cinta segi tiga atau segi empat namun segi banyak. Meski demikian kisah cinta rumit ini mampu disajikan penulis dengan sederhana. Dari novel ini kita bisa belajar bahwa apa yang kita benci belum tentu buruk bagi kita dan sebaliknya apa yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Permainan kata yang indah dalam buku ini pun mampu membuat pembaca merasa baper.
      Pernyataan bahwa benci dan cinta itu hanya berbeda tipis menjadi kesimpulan dalam cerita ini. Siapa sangka seorang remaja yang terkungkung dalam kebenciannya pada seseorang justru kemudian membuahkan bara cinta dihatinya. Seperti yang tertulis pada sinopsis buku “Saat pohon kebencian itu tumbuh dan berbuah, aku benar-benar tercengang. Tak kudapati bara di dalamnya. Hanya candu yang membuat aku terikat, hingga aku tak bisa melepaskan diri darinya.”
       Novel ini juga banyak menyuguhkan kehidupan para aktivis kampus yang bergelut di dunia jurnalistik. Selain itu penyampaian cerita yang renyah membuat novel ini asyik untuk dinikmati. Meskipun beberapa kali menggunakan alur mundur namun alur maju tetap  mendominasi jalannya cerita. Banyak kejutan yang tidak terduga dan mengesankan yang dimunculkan penulis. Kelebihan lainnya adalah kemampuan penulis dalam menghidupkan setiap karakter tokoh dan pemaparan setting yang kuat. Ninevelove berhasil membuat pembaca bernostalgia dengan kehidupan kampus.


Dimuat di Satelitpost Edisi 20 Agustus 2017


m

Thursday, August 17, 2017

Panduan Bagi Muslimah Sebelum ke Baitullah





Judul           : Rujukan Utama Haji dan Umrah untuk Wanita
Penulis        : Dr. Abiah Muhammad al-Kahlawi
Penerbit      : Zaman
Cetakan      : Pertama, 2015                                   
Tebal          : 553 Halaman
ISBN          : 978-6021-687-56-7

    Tidak sampai sebulan lagi semua umat Islam akan merayakan Hari Raya Haji. Semua umat Islam pasti punya keinginan dalam hatinya untuk menunaikaan ibadah haji ke Baitullah. Calon jamaah haji yang berkesempatan berangkat tahun ini tentu sudah harus bersiap-siap berangkat. Meskipun telah mendapatkan pembekalan mengenai pelaksanaan haji namun ada baiknya calon jamaah haji khususnya muslimah untuk membaca buku berjudul Rujukan Utama Haji dan Umrah untuk Wanita ini. Bagi muslimah yang belum pernah berhaji tentu menyimpan banyak pertanyaan seputar haji. Untuk itu buku ini bisa dijadikan panduan spiritual para muslimah dalam menunaikan ibadah Haji.
     Buku ini memberikan pengetahuan tentang haji dan umrah bagi muslimah yang tentunya penting sebagai bekal sebelum menjalankan ibadah haji dan umrah. Bagi umat Islam, ibadah haji seperti dengan jihad. Sebagaimana sabda Rasulullah saw pada istrinya Aisyah ra, “Kalian wajib berjihad tanpa harus berperang, yaitu dengan haji dan umrah”. (HR. Ahmad). Rasulullah saw juga pernah mengatakan bahwa mengerjakan ibadah haji dapat menghapus dosa bagai air yang bisa menghapus noda.
   Melalui buku ini penulis membahas secara lengkap mengenai bagaimana menjalankan kedua ibadah tersebut dengan tata cara yang benar. Secara istilah, haji berarti menyengaja pergi ke Baitullah pada waktu-waktu tertentu untuk memuliakan dan mengagungkan Allah. Ibadah haji mempunyai sejumlah amalan yang harus dilakukan juga pada saat-saat tertentu, yang semuanya tidak akan sah bila tidak dibarengi dengan niat dan keinginan yang kuat dalam pelaksanaannya. Sedangkan umrah hanya disunnahkan dilakukan sekali seumur hidup.
      Bagi muslimah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menjalankan ibadah haji. Pertama, tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Perempuan yang mempunyai anak kecil yang tidak bisa ditinggal pergi tidak diwajibkan menunaikan haji. Kedua, tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Jika suaminya sedang sakit maka ia tidak boleh meninggalkannya. Ketiga, tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Jika orangtua sakit atau memerlukannya maka ia tidak boleh pergi berhaji. Keempat, tanggung jawab seorang muslimah pada dirinya sendiri. Maksudnya, ia harus mempunyai pendamping untuk membantunya (hal. 153).
      Penulis juga mengulas terkait boleh tidaknya seorang muslimah pergi haji tanpa izin suami. Menurut mazhab Hanafi dan Hambali serta al- Syafi’i, seorang suami tidak boleh melarang istrinya melakukan haji fardhu (haji pertama kali) jika memang istrinya sudah memenuhi syarat wajib haji. Melarang seseorang mengerjakan haji termasuk perbuatan dosa sebagaimana melarang melakukan shalat dan puasa (hal. 155).
    Berkaitan dengan rangkaian manasik haji juga ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang muslimah. Salah satunya tentang boleh tidaknya muslimah yang sedang haid atau nifas melakukan sa’i. Para fukaha berbeda pendapat akan hal ini. Menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, muslimah yang haid atau nifas tetap boleh bersa’i dengan alasan sa’i tidak dilakukan di area Baitullah yang mensyaratkan dalam keadaan suci saat memasukinya. Sementara menurut mazhab Hanbali dan Maliki juga berpandangan sama. Yang berbeda adalah menurut al-Hasan yang berpendapat bahwa muslimah harus dalam keadaan suci saat melakukan sa’i sebagaimana saat melakukan tawaf. Pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw pernah bersabda padanya, “Kerjakanlah semua manasik yang juga dikerjakan jamaah haji. Tapi janganlah engkau tawaf di Baitullah dan sa’i antara Shafa dan Marwa sebelum engkau mandi terlebih dahulu”.
       Melalui buku ini penulis juga mengulas makna dan hikmah di balik manasik haji serta menginformasikan semua hal yang perlu muslimah lakukan untuk menjadi haji yang mabrur, termasuk doa-doa yang bersumber langsung dari Al-Quran dan sunnah. Buku ini juga menerangkan tentang sejarah dan rahasia Makkah Al-Mukarramah, Ka’bah Al-Musyarrafah, Masjidil Haram, dan sumur Zamzam. Buku ini sangat lengkap sebagai panduan untuk berhaji dan umrah bagi para muslimah. Ilustrasi dan gambar yang ada dalam buku ini juga akan memudahkan pembaca untuk memahaminya.

m

Wednesday, August 16, 2017

Soekarno dan Nilai-nilai yang Diajarkan Sang Ibu Asuh

Dimuat di Koran Jakarta Edisi 14 Agustus 2017





Judul           : Sarinah
Penulis       : Wisnuwardhana
Penerbit      : Palapa
Cetakan      : Pertama, 2015                                   
Tebal          : 272 Halaman
ISBN          : 978-602-0806-46-4

    Jiwa patriotisme dan nasionalisme Bung Karno memang begitu kental mengalir dalam tubuhnya. Hal ini dikarenakan sedari kecil dia telah bersinggungan dengan para tokoh bangsa seperti Tjokroaminoto. Namun ada sosok lain yang turut membentuk karakternya, menginspirasinya, dan mengajarkan nilai-nilai nasionalisme, yaitu perempuan bernama Sarinah. Sarinah bukanlah tokoh politik ataupun tokoh bangsa. Dia adalah ibu asuh dari Bung Karno kecil dan berasal dari kalangan rakyat biasa yang pernah menjadi pembantu di rumah kedua orangtuanya.
    Sarinah sangat menyayangi Soekarno seperti putranya sendiri. Salah satu nasihatnya yang diingat Soekarno yaitu nasihatnya yang berbunyi, “Karno, di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya, engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia” (hal. 34). Nasihat-nasihat bijak dari ibu asuhnya itu dijadikan pemikiran oleh Soekarno, terutama yang berkaitan dengan humanisme dan feminisme. 
     Menurut Soekarno, Sarinah adalah sosok perempuan yang sangat berjasa dalam hidupnya. Sarinah menginspirasinya untuk melakukan perjuangan mengenyahkan penjajahan. Sarinah juga merupakan guru terbaik untuknya sehingga mata hatinya terbuka untuk mencintai rakyat kecil.
    Soekarno dan ibu asuhnya itu seakan-akan memiliki hubungan batin. Dia menempati posisi terhormat karena pola pendidikan dan pengasuhannya meresap kuat sejak Soekarno masih kecil. Sarinah menemaninya bermain, bercerita, dan memberi nasihat-nasihat penuh makna. Sejak usia dini yang merupakan usia emas perkembangan otak, Sarinah mampu membimbing dan menanamkan pendidikan karakter yang baik.
     Bagi Soekarno, Sarinah bukan sekadar pembantu biasa, dia juga merupakan ibu asuh yang luar biasa. Sosoknya mampu menjadi guru terbaik baginya. Sarinah merupakan perempuan keibuan yang telah menginspirasinya untuk melakukan perjuangan mengusir para penjajah dari tanah Indonesia.
     Sarinah mengajarkan Soekarno cinta tanpa pamrih bahwa mencintai rakyat harus dilakukan setulus-tulusnya sehingga cinta kepada rakyat menjadi dasar dari setiap perjuangan Soekarno. Bagi Soekarno, mencintai rakyat ibarat mencintai dirinya sendiri yang lahir dan besar dalam kehidupan rakyat kecil. Atas nama Sarinah, dia mencetuskan pemikiran tentang kemerdekaan dan gerakan tentang kaum perempuan di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ini menjadi sebuah usaha besar dan mulia yang telah diupayakan oleh Soekarno demi mendapatkan sebuah konsep ideal mengenai perempuan Indonesia (hal. 193).
     Soekarno tidak pernah lupa dengan jasa-jasa ibu asuhnya itu. Dua tahun setelah Indonesia merdeka, nama perempuan yang sangat menginspirasinya itu dijadikan kursus politik kaum perempuan di Yogyakarta. Saat itu ibukota negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta sejak 14 Januari 1946. Di istana negara, kaum perempuan berkumpul untuk bersama-sama belajar mengenai peran dan fungsi mereka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 
      Setiap Sukarno selesai memberikan kursus materi yang diajarkan selalu ditulis dan kemudian dikumpulkan oleh Mualif Nasution dan Gunadi. Mereka adalah pegawai sekretariat presiden. Kumpulan materi ini dibukukan dengan judul Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia. Sarinah dijadikan simbol bagi Sukarno dalam membicarakan tentang perempuan.
      Selain itu, Soekarno banyak mengajarkan tentang kesetaraan anatara kaum laki-laki dan perempuan. Kesetaraan yang dimaksudkan di sini adalah kesetaraan yang menghilangkan penindasan anatara golongan yang satu terhadap golongan yang lainnya. Dengan adanya kesetaraan ini maka Soekarno berusaha untuk mewujudkan masyarakat sosialis, khususnya bagi para kaum hawa di Indonesia. Sebab, dalam masyarakat sosialis yang dicita-citakan oleh Soekarno, stigma masyarakat tentang tugas perempuan hanya berkisar dalam urusan domestik akan terhapus dan ditiadakan.
     Untuk mengenang jasa-jasa Sarinah, dia membangun Gedung Sarinah sebagai pusat perbelanjaan di Jakarta yang konsep awalnya untuk mengembangkan perekonomian rakyat. Bagi Soekarno, ibu asuhnya ini adalah mata air cinta, humanisme, dan juga feminisme.

m

Selamatkan Pelajar dari Jerat Narkoba

Dimuat di Koran Jakarta Edisi 4 Agustus 2017




Judul           : Pelajar Indonesia Anti Narkoba
Penulis        : Abdul Wahib
Penerbit      : Emir, Imprint dari Penerbit Erlangga
Cetakan      : Pertama, 2016                                   
Tebal          : 200 Halaman
ISBN          : 9786020935416

      Peredaran narkoba di Indonesia semakin marak saja. Penemuan dan penangkapan 1 ton sabu di Anyer oleh pihak kepolisian menjadi hal yang cukup mengejutkan masyarakat Indonesia belakangan ini. 1 ton bukanlah jumlah yang sedikit. Sabu sebanyak itu tentu akan mampu menghancurkan jutaan generasi penerus bangsa. Lolosnya sabu sebanyak itu hingga bisa masuk ke wilayah Indonesia menunjukkan bahwa peredaran narkoba telah menghasilkan jaringan yang terorganisir.
    Sasaran konsumen pemakai narkoba pun bisa dari berbagai kalangan, mulai dari gelandangan, kalangan artis sampai pelajar di sekolah. Memang sungguh ironis karena narkoba telah masuk ke dalam lingkungan sekolah di mana institusi ini yang diharapkan menjadi penerus tingkat estafet pemimpin bangsa di masa mendatang. Untuk itulah Polri terus mengampanyekan bahaya narkoba kepada seluruh lapisan masyarakat terutama mereka para pelajar. Tingginya angka prevalensi pemakai narkoba menjadikan barang haram yang satu ini menjadi salah satu permasalahan terbesar yang harus segera diatasi.
     Persoalan yang ditimbulkan oleh narkoba memang sangat kompleks, mulai dari memperburuk permasalahan sosial sampai meningkatkan angka kriminalitas. Buku karya Abdul Wahib yang merupakan hasil studinya sejak tahun 1986 ini hadir sebagai sebuah oase di tengah persoalah penyalahgunaan narkoba yang semakin mengkhawatirkan. Penulis mengulas berbagai hal seputar narkoba, penyalahgunaan sampai penaggulangan yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang seharusnya ikut andil dalam penanggulangan tersebut.
     Bab pertama buku membahas tentang faktor penyebab penyalahgunaan narkoba, tindakan penanggulangannya, dan pendidikan agama sebagai upaya preventif. Bab kedua menguraikan tentang narkoba dari sisi sejarah, jenis-jenisnya, dan akibat yang ditimbulkan dari penyalahgunaannya tersebut. Bab selanjutnya mulai membahas mengenai narkoba yang telah memasuki sekolah. Pada bagian ini dijelaskan tentang cara pemasaran narkoba di sekolah yang cukup unik, yaitu dengan memberi sampel secara cuma-cuma untuk satu sampai tiga kali pemakaian. Pemakaian berikutnya baru dikenakan biaya sesuai jenis yang disukai.
       Pengguna yang sudah sering mengkonsumsi diberikan barang lebih dulu atau bisa ditukar dengan barang-barang pribadi yang harganya ditentukan oleh pengedar atau bandar. Apabila tidak ada uang atau barang, si pelajar akan dirayu untuk mengambil uang milik teman atau orang tuanya (hal. 38). Dorongan ingin tahu yang besar membuat mereka ingin mencoba atau ingin merasakan barang yang ditawarkan tersebut sehingga mereka menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Rasa ketagihan membuat mereka rela untuk mendapatkan barang haram tersebut dengan cara apa pun meskipun harus dengan mencuri.
      Sasaran yang dipilih dalam peredaran narkoba di sekolah adalah anak-anak yang kurang berminat bersekolah, anak yang sering mengeluh, anak yang bermasalah dengan sekolah dan keluarga, anak yang kurang percaya diri, anak yang terlalu percaya diri, anak yang mudah bosan, anak yang nekat, dan anak yang mudah mendapatkan uang (hal. 39). Mengetahui siapa saja anak yang menjadi sasaran peredaran narkoba tentu pihak sekolah harus bisa memberikan perhatian lebih pada mereka.
      Buku ini juga menjelaskan tentang tahap-tahap penyalahgunaan narkoba mulai dari kompromi, coba-coba, toleransi, eskalasi, habituasi, adiksi/dependensi, intoksikasi, hingga akhirnya mati. Penyalahgunaan narkoba memang bukan sebuah pola yang sederhana. Untuk itu diperlukan peran guru, keluarga, dan lingkungan untuk penanggulangannya. Banyak pihak yang harus ikut bertanggung jawab untuk menanggulangi atau setidaknya mencegah seperti pemerintah, lembaga pendidikan, pemuka masyarakat, dan terutama keluarga.
     Seperti yang diungkapkan Kombes Pol. Slamet selaku Kabag Humas BNN pada bagian pengantar buku bahwa banyak pihak yang harus dilibatkan untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba. Alasannya, narkoba merupakan persoalan yang sangat kompleks. Tidak hanya butuh campur tangan pemerintah, masyarakat pun mesti turut mengambil peran. Mengingat manfaatnya, buku ini penting untuk dibaca oleh para pendidik maupun masyarakat umum.

b

Wednesday, August 9, 2017

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 140




Naku pergi ke kamar Dutta untuk mengembalikan pakaian luar Dutta yang ada padanya. Dutta menatapnya dengan lembut dan meminta Naku untuk menaruhnya di lemari. Naku melihat alkohol di kamar Dutta. Dutta bilang bahwa dia membeli itu bukan untuk diminum. Dutta membuka bajunya dan hanya memakai singlet. Naku melihat luka di tubuh Dutta dan berjalan pergi karena akan memanggil dokter untuk Dutta tapi Dutta mencegahnya. Dia bilang dia tidak butuh dokter. Dutta meminta Naku untuk merawat lukanya dengan alkohol. Naku mengambil alkohol dan Dutta memberikan kapasnya. Naku merasa ragu untuk mengoleskan alkohol itu di luka Dutta. Dutta bertanya pada Naku apa yang dia pikirkan. “Tapi, tuan akan merasa sakit” kata Naku. “Ini bukan pertama kalinya, ayo cepatlah!” kata Dutta.

Naku mulai mengoleskan alkohol itu pada luka Dutta. Dutta merasa sangat kesakitan dan memegang tangan Naku yang sedang memegang lengannya. Tiba-tiba Baji datang. Baji melihat meeka berdua dan merasa mungkin tengah mengganggu mereka berdua sehingga dia berkata pada Dutta bahwa dia akan kembali nanti tapi Dutta menghentikannya dan bertanya kenapa kau akan kembali nanti, masuklah!

Naku berkata pada Dutta bahwa dia akan pergi. Naku mengambil botol alkohol tadi dan membawanya pergi karena Dutta tidak lagi membutuhkannya (sebenanrny Naku tidak ingin Dutta minum alkohol itu).

Baji duduk di depan Dutta  dan berkata, “Apa ini kak, sampai kapan hal ini akan terus berlanjut? Maksudku saling menatap satu sama lain dan tidak bicara sama sekali.” Dutta ingin menjitak kepala Baji tapi Baji berhasil menghindarinya. Baji melihat mangal sutra di tangan Dutta dan bertanya mengapa itu ada ditangannya, bukankah seharusnya ada di leher Naku. Dutta mengingat bagaimana dia memakaikan itu dengan paksa pada Naku sebagai hukumannya. Dutta berkata, “Saat pertama kali aku memakaikannya, aku lakukan dengan paksa. Tapi sekarang aku ingin memakaikan di hadapan semua orang dengan penuh kebanggaan. Aku akan berikan dia sebagai haknya. Ini bukan hukuman baginya lagi”. Baji berkata itu bagus dan segera pergi menemui ibu Dutta. Baji meminta ibu Dutta untuk segera menikahkan Dutta-Naku sesuai ritual.

Di dapur, Badi sedang memasak dan Naku ingin membantunya. Naku bilang hari ini dia ingin memasak untuk tuan Dutta karena semua orang sedang bahagia. Dia ingin melakukan sesuatu untuk Tuan Dutta. Kishore datang dan berkata pada Naku untuk percaya pada dirinya sendiri dan cintanya karena mereka pasti akan selalu menang. Cinta seorang wanita memiliki kekuatan yang besar dan lihat sekarang dia menang. “Hari ini kau harus memasak dan membuat Dutta berkata wah enak sekali masakan buatan istriku” kata Kishore. Kishore, Badi, dan Naku tersenyum. Kishore kemudian pergi. Naku mulai sibuk memasak.


Di meja makan semua sudah siap untu makan. Mata Dutta mencari ke sekeliling dan bertanya Nakusha di mana.

Selanjutnya: Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 141


k

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 139





Episode dimulai dengan Ibu Dutta yang terlihat marah saat berbicara dengan orang di telepon dan meminta orang itu untuk tidak menelepon lagi atau mencoba datang ke rumah. Ibu Dutta menutup telepon. Badi masuk dan memberitahu kalau Bajiroo barusaja menelepon untuk memberitahu kalau Dutta-Naku selamat. Ibu Dutta sangat senang karena Dutta telah berhasil mengalahkan musuhnya dan dia kembali bersama istrinya. Mereka akan menyiapkan upacara penyambutan.

Dutta, Naku, dan Baji berjalan untuk pulang. Dutta berjalan di samping Naku sementara Baji di belakang mereka. “Dari tadi kau sama sekali tidak bicara, katakan sesuatu” kata Dutta pada Naku. “Apa yang harus aku katakan tuan? Aku masih tidak percaya kalau sekarang aku bebas. Apa semuanya sudah berakhir?” “Ini baru akan dimulai” kata Dutta.

“Tuan kau mengambil resiko yang besar untukku, bagaimana kalau terjadi sesuatu.......”

“Jadi... harusnya aku tidak datang? Aku tidak boleh menyelamatkanmu? Hah...? Pasti kau tahu kalau aku akan datang untukmu. Kau sendiri pernah mengatakan. Ayolah Naku kita pulang! Semua keluarga menunggu kita” kata Dutta.

Dutta menggandeng tangan Naku. Keduanya saling menatap dan mereka kembali berjalan. Baji di belakang melihat semua itu dan berpura-pura sibuk menelepon. Naku melihat Dutta memakai mangal sutra dan dupattanya di tangannya dan mengingat hari di mana dia mengembalikan mangal sutra itu pada Dutta. Dutta melihat itu dan sepertinya ingin mengembalikan mangal sutra itu pada Naku tapi keburu anak buah Dutta datang untuk menjemput mereka bertiga.

Kala di kamarnya sedang memegang boneka. Kala mencopot kepala boneka itu dan melemparkannya. Dia berkata pada boneka itu seolah-olah boneka itu adalah naku. Kala berkata bahwa dia akan menghancurkan Naku.

Dutta, Naku, dan Baji akhirnya sampai rumah. Serdji dan Kishore menyambut mereka di luar rumah dengan suka cita. Naku berusaha keluar dari mobil tapi dia tidak bisa membuka pintu mobil. Dutta melihat itu dan membantunya membuka pintu. Mereka saling tatap dan Baji datang membawa Dutta keluar dari mobil untuk menari. Dutta keluar tapi matanya tertuju pada Naku.

Naku keluar dan Serdji menghampirinya. “Kakak, kakak, aku tahu kalau kak Dutta tidak akan membiarkanmu terluka” kata Serdji. Kishore juga menghampiri Naku dan menanyakan kondisinya. “Berkatku selalu bersama kalian” kata Kishore. Kishore, Serdji, Baji dan para pelayan kembali menari dengan suka cita. Dutta melihat ke arah naku dan pergi mendatanginya, tanpa bicara dan menggandeng Naku untuk masuk rumah. Badi dan ibu Dutta menyambut di dalam rumah dengan gembira apalagi melihat Dutt menggandeng tangan Naku. Ibu Dutta berkata pada Badi, “Bukankan mereka adalah pasangan yang serasi”. Dutta melepas tangan Naku dan sedikit malu melihat ibunya dan Badi memperhatikannya.


Dutta-Naku memberi salam pada ibunya. Ibu Dutta meminta Dutta melupakan semuanya dan menjalani hidup yang baru. Dutta tidak melihat kakaknya Kala dan menanyakan pada ibunya di mana dia. Ibu Dutta mengatakan bahwa Kala ada di kamarnya. Dutta pergi menemui Kala. Dia berpikir Kala marah karena dia pergi menyelamatkan Naku. Dengan permainan kata-katanya, Kala meyakinkan Dutta bahwa dia juga akan memaafkan Nakusha sama seperti Dutta yang juga telah memaafkannya. Kala bertanya pada Dutta apa dia bahagia. Dutta menjawab bahwa dia akan bahagia kalau Kala juga bahagia. Kala memeluk Dutta dengan penuh kasih tapi dalam hati dia berkata, “Sampai sekarang kau masih tidak mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, lalu bagaimana kau bisa mengerti Kalavati”.



k

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 138





Episode dimulai dengan suara tembakan dan Naku terjatuh. Dutta memanggil Naku yang jatuh. Baji juga mendekati Naku. Ana terjatuh dan Suba di belakang Ana sambil memegang pistol. Dutta memegang Naku dan terus memanggil namanya. Naku membuka mata dan memanggil tuan. Dutta dan Baji melihat Naku baik-baik saja dan merasa lega. Dutta melihat Ana yang jatuh di lantai dengan luka tembak di tubuhnya. 

Ana kesakitan dan mencoba menoleh ke arah belakangnya dan melihat istrinya Suba mengangkat pistolnya. Naku melihat ke Suba tidak percaya dengan yang dilakukannya. Suba mendekati Ana dan menangis. “Suba, kau menghianatiku? Istriku telah menghianatiku, apa yang akan aku katakan? Suami yang begitu beruntung? Ini karena Naku” kata Ana. Ana melihat ke arah Dutta dan berkata, “Kau pasti senang melihat kondisiku yang seperti ini, ini nasib buruk, tapi kau belum menang dan Males (nama lain Ana) belum kalah. Aku beritahu kau satu hal, untuk istrimu kau datang ke sini dengan begitu banyak tantangan dan suatu hari kau akan menyadari betapa bodohnya dirimu Dutta. Hidup adalah permainan, yang sangat berbahaya untukmu. Saat kau mengetahui permaianan apa itu, kau akan menjadi tidak waras. Kau tidak akan pernah tahu yang sebenarnya dari istrimu itu Dutta, Hei Dutta, anak ini sedang membawa ketegangan, ketegangan istrimu, bersama istrimu ke surga, kau tidak akan pernah mengetahui hal itu. Ana akan pergi dengan membawa kebahagiaan istrimu, tolong kau jaga dia dan temui aku di sana” kata Ana yang kemudian mati. Naku khawatir dengan kata-kata terakhir Ana, Dutta dan Baji tidak mengerti dengan perkataan Ana. Sementara Suba merasa sangat sedih  dengan kematian suaminya dan terus menangisinya.

Dutta seakan sedang memikirkan maksud kata-kata terakhir Ana. Suba melihat kebingungan pada wajah Dutta. Naku khawatir. Suba bertanya pada Dutta, “Apa kau percaya kata-katanya? Tolong jangan lakukan itu! Sebenarnya Naku sangat mencintaimu. Dia hidup hanya untukmu. Jangan biarkan dia melalui banyak penderitaan! Jangan pernah!” Suba memegang kepala Ana dan menaruhnya di pangkuannya dan sambil terus menangis berkata “Ana, aku sudah berusaha untuk menghentikan semua ini, tapi kau tetap tidak setuju, kau tidak setuju, bahkan kau juga sudah menghianatiku Ana, kau menghianatiku, padahal aku mencintaimu, aku mencintaimu tapi kau menghianati aku”.

Pagi hari ibu Dutta berdoa pada Tuhan agar Dutta kembali pada istrinya karena dia selalu menjaganya. Saat sedang berdoa tiba-tiba telepon berdering. Ibu Dutta mengira itu Dutta tapi ternyata bukan. Ibu Dutta terlihat marah saat berbicara dengan orang di telepon dan meminta orang itu untuk tidak menelepon lagi atau mencoba datang ke rumah. 



m

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 137




Episode dimulai dengan Dutta melepaskan tangan Naku dan mulai berjalan ke arah Ana. Ana juga berjalan mendekati Dutta. Dutta berkata, “Baji, perang ini antara aku dengan Ana, pergilah sekarang!” Tapi kak...” Dutta meminta Baji menurunkan senjatanya dan Baji menurutinya. “Waktu yang telah dinantikan sudah tiba Ana, kau telah membuatku tidak sadar dan menculik istriku. Itu sangatlah mudah Ana tapi hari ini aku ada di hadapanmu. Hari ini pun di hadapanku kau mencoba menyentuh istriku atau menyuruh anak buahmu untuk memukul Dutta. Kau menginginkan pertemuan dari hati ke hati, aku akan memberikan pertemuan tangan ke tangan. Aku akan menggunakan tangan kosong”. Dutta melempar pistolnya ke belakang. “Kau pun dengan tangankosong, aku akan sendirian dan kau juga akan sendirian” lanjut Dutta.
.....
“Aku menyukai gayamu, hebat... dengarkan..tidak ada yang akan memisahkan kami, simpan senjata kalian” perintah Ana pada semua anak buahnya. Dutta kembali mengingat bagaimana Ana menculik Naku dan menjadikannya sebagai orang-orangan sawah. Dutta mengepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan. Naku, Suba, Baji, dan semua orang merasa tegang. Ana melempar handuk yang biasa dibawanya kemana pun dia pergi. Pertarungan Dutta-Ana dimulai. Mereka berusaha saling memukul. Tapi Dutta yang paling banyak mendapat kesempatan memukul mungkin karena hatinya benar-benar sangat marah. Suba merasa terluka melihat suaminya dipukul. Baji dan naku tegang tapi menikmati pertarungan ini. Ana terus mencoba memukul Dutta tapi Dutta selalu berhasil menghindarinya dan berbalik memukuli dan menendang Ana. Sekali Ana berhasil memukul Dutta dan Naku serta Baji khawatir. Tapi Dutta berhasil membalas dengan menendang  dan memukul Ana. Ana pun terjatuh ke lantai. Ana mencoba berdiri tapi tidak sanggup lagi. Suba terlihat sangat sedih. Saat mencoba bangun lagi, Ana melihat pistol di lantai dan segera mengambilnya dan menodongkannya ke kepala Nakusha. “Hei, jangan... jangan Ana, jangan lakukan” teriak Dutta. Baji kaget karena itu tidak terduga. Naku sama sekali tidak terlihat takut atau panik seakan tidak masalah bila dia mati saat itu.

“Kau bilang apa Dutta?” tanya Ana. “Jangan! jangan lakukan Ana!” kata Dutta.

“Semuanya adil dalam cinta dan perang, kau pasti pernah mendengarnya” kata Ana. 

Ana bersiap menarik pelatuknya. Dutta dan Baji semakin tegang. Dutta berlari ke arah Ana untuk menghentikannya dan dorrr.....Naku terjatuh dan Dutta menangkapnya.




k

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 136




Episode dimulai dengan Ana yang mencoba memaksakan kehendaknya pada Naku. Naku ketakutan dan berteriak memanggil Dutta. Dutta yang terus mencari Naku seolah mendengar teriakan Naku. Saat Ana berusaha menyentuh Naku pada saat yang sama Dutta berkelahi dengan dua anak buah Ana. Ana berkata pada Naku, “Duttamu itu tidak waras, Orang-orang mencari berlian di batu bara tapi Dutta menyimpan berlian sebagai batu bara, kenapa? Kenapa dia memakaikan warna hitam padamu? Krena sesuatu yang bisa dia lihat adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Ana. Hri ini aku mengetahuinya, hari ini aku akan melihatmu sebagai Nakusha Dutta, Nakusha yang hitam kelam, kau mengerti?” Ana mengambil pewarna hitam di laci dan mulai menerapkannya pada wajah Naku. “Kau tahu apa ini, ini warna kesukaanku, hitam”.

Baji mencari Naku. Dutta juga terus mencari Naku Tiba-tiba dua nak buah Ana yang membawa pedang menyerang Dutta. Dorr..... salah satu anak buah Ana itu tertembak dan yang menembak ternyata adalah Suba. Dutta merasa terkejut, Dutta melihat wajah Suba dan ingat bahwa Suba yang telah memberinya persembahan waktu itu sehingga dia pingsan. Anak buah Ana yang lain berkata pada Suba bahwa dia telah menghianati Ana. Dorrr.... Suba juga menembaknya. Suba berkata pada Dutta “Pergilah dan selamatkan istrimu. Jalannya lewat sana”. Dutta masih bingung karena Suba menolongnya tapi dia mengangguk dan pergi tanpa mengatakan apa pun.

Kulit Naku telah kembali ke kulit hitamnya. “Kau tahu kenapa Dutta memakaikanmu warna hitam seperti itu, tuanmu berpikir ini sesuatu yang tidak bisa dilihat olehku, kau mengerti?” “Inilah perbedaan antara kau dan tuanku, kau tidak akan pernah bisa melihat apa yang dia lihat, dia bahkan tidak tahu kalau aku cantik” kata Naku. Ana kaget mendengar ucapan Naku bahwa Dutta tidak tahu wajah cantik Naku. Naku melanjutkan ucapannya, “Tapi dia tidak pernah menganggapku sebagai batu bara. Dia melihat hati seseorang dan bukan wajahnya”. Tiba-tiba seseorang membuka pintu dan itu adalah Dutta Bhau kita.

Naku melihat Dutta dan memanggilnya. Dutta mengarahkan pistolnya ke arah Ana sambil menengok ke arah Naku. Ana berusaha mengambil pistol dari celananya tapi Baji masuk ke ruangan tersebut dan menodongkan pistolnya pada Ana. “Hei..., hei.. Ana, waktunya habis, ayoo!” perintah Baji pada Ana dan membawanya keluar ruangan. Dutta-Naku yang masih berdiri di ruangan tersebut saling menatap. Musik diputar. Naku mengingat adegan di hutan bersama Dutta sementara Dutta mengingat bagaimana Naku diculik Ana, mimpinya di taman bunga bersama Naku, bagaimana Naku mengikat dupatta pada lukanya, bagaimana dia menikahi Naku dengan paksa untuk menghukumnya, bagaimana Naku mengembalikan mangal sutra padanya, bagaimana Naku yang menyelamatkannya di kuil. Pelan-pelan Dutta berjalan mendekati Naku dan memeluknya dengan lembut. Keduanya saling berpelukan. Seakan Dutta baru saja mendapatkan miliknya yang paling berharga. Sambil memeluk Naku, Dutta memegang kepala laku dengan penuh kasih dan berkata, “Hei Naku, jangan menangis, sekarang Analah yang akan menangis”.


Baji membawa Ana ke sebuah ruangan. Semua anak buah Ana juga pergi ke sana. Suba juga di sana. Ana melihat Dutta datang sambil menggenggam erat tangan Naku. Mereka berdua berpegangan tangan (mungkin Ana menyadari bahwa Dutta memang mencintai Naku yang gelap). 



m


Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 135




Episode dimulai dengan adegan Naku yang duduk di sebuah ruangan dengan sedih, kemudian Dutta juga masuk ke ruangan tersebut. Dutta mencari ke sekeliling ruangan dan memanggil nama Nakusha. Nakusha mendengarnya dan segera berdiri mencari Dutta. Dutta melihat Naku di hadapannya tapi dia tidak mengenalinya. Mereka berdua saling tatap untuk sesaat. Kemudian Dutta bertanya padanya, “Hei nona, apa kau melihat istriku? Dia bernama Nakusha. Naku merasa sedih karena Dutta tidak mengenalinya. “Naku, kau dimana?” tanya Dutta. “Kenapa kau tidak bicara apa-apa? Apa kau takut pada senjata ini? Jangan takut! Aku tidak punya masalah denganmu nona, aku mencari Ana, wajah istriku kehitaman, waktuku tidak banyak nona” kata Dutta. Naku tidak mengeluarkan sepatah kata pun hanya terdiam sedih. Dutta terus mencari ke sekeliling, tidak menemukan Naku dan tidak mendapat jawaban jadi dia memutuskan pergi dari ruangan itu. Suba berdiri bersembunyi dan menyadari bahwa bahwa Dutta memang tidak tahu kecantikan Naku yang sebenarnya dan Dutta memang mencintai Naku yang gelap.

Naku mengingat ucapan Dutta tadi yang menyebut Nakusha sebagai istrinya. Dia merasa senang. Naku berkata, “Hari ini tuan memanggilku sebagai istrinya, dia memanggil namaku dengan penuh kasih, aku merasa seperti menari dan sedang memeluk tuan, aku serasa ingin pergi dan mengatakan padanya kalau aku adalah istrimu Nakusha tapi aku tidak bisa bicara, aku tidak bisa menjalani kebahagiaan ini. Tuan tidak bisa mengenaliku. Tuhan, hari ini aku merasa kau memberikan hukuman besar yang membuatku cantik. Ibu benar, kecantikanku adalah hukuman terbesar untukku”. Naku kemudian menangis sesenggukan tapi kemudian dia menyadari bahwa Dutta dalam bahaya.

Suba muncul di hadapan Naku dan berkata, “Kau benar Naku, cintamu itu tulus, dan cintaku.... Aku mengira kalau cintaku itu tulus dan Ana sangat mencintaiku. Dia tidak akan meninggalkan aku tapi aku salah. Nakusha, aku baru sadar  bahwa Ana hanya mencintai kecantikan. Hari ini dia melihat kecantikanmu dan dia terpesona. Dutta telah membuktikan Naku betapa tulusnya cintamu. Sampai saat ini dia belum melihat kecantikanmu tapi dia sangat mencintaimu. Kau juga siap memberikan hidupmu untuknya. Penjahat seperti Ana tidak akan pernah bisa mencintai seseorang baik kau maupun aku. Apapun yang aku lakukan pada istri pertama Ana, hal yang sama terjadi padaku dan sekarang dia ingin menikahimu Naku”. Naku sangat terkejut sekali mendengar itu.

Saat Naku masih terkejut mendengar perkataan Suba bahwa Ana ingin menikahinya, tiba-tiba Ana membuka pintu kamar. Naku dan Suba terkejut. Ana berjalan mendekati Naku dan bertanya, “Ada apa, kenapa lama sekali? Berapa lama kau telah membuat Ana menunggu? Begitu banyak waktu terduang sia-sia saja. Waktu pernikahan sudah selesai dan sekarang waktunya berbulan madu. Jadi, aku pikir sekarang pernikahannya dibatalkan dan langsung saja ke malam bulan madu”. Naku sangat ketakutan sementara Suba berdiri tidak percaya suaminya mengatakan itu. 

Ana menarik tangan Naku. Suba berusaha menghentikannya. “Ana, sebelum kau menyentuhnya, kau lenyapkan aku dulu” kata Suba. “Tidak, tidak, kenapa aku harus melenyapkanmu, tapi kau ini istri macam apa, kau mencintai suamimu tapi kau menghalangi jalannya, katakan yang sebenarnya ide siapa yang menyuruh untuk menculik Naku dari Dutta? Itu idemu bukan, lalu kenapa kau sekarang melakukan ini?” “Kalau kau menyentuh Naku maka kau akan menjadi abu” kata Suba. “Jika aku menjadi abu maka kau harus meminta maaf untukku kepada Tuhan, kepada Tuhan yang kau puja” kata Ana. Naku berdiri di belakang Suba dengan ketakutan. Ana menarik tangan Suba dan menyeretnya keluar. Ana segera menutup pintu. Naku semakin ketakutan. Ana mencoba memaksakan kehendaknya padan Naku. 



k