Saturday, August 5, 2017

Seni Mendidik Ala Rhenald Kasali




Judul           : 30 Paspor: The Peacekeepers Journey
Penulis        : J.S. Khairen
Penerbit      : Noura Books
Cetakan      : Pertama, Maret 2017                        
Tebal          : 392 Halaman
ISBN          : 978-602-385-219-2

      Keunggulan yang dicapai manusia di masa depan tidak pernah lepas dari seberapa hebat ia terlatih menghadapi aneka kesulitan dan tantangan kehidupan. Hal inilah yang membuat Rhenald Kasali, praktisi bisnis terkemuka di Indonesia yang juga seorang akademisi memberikan tugas yang tidak biasa untuk mahasiswa yang diampunya pada mata kuliah Pemasaran Internasional di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Rhenald Kasali memahami betul bahwa manusia baru memahami kemampuan sendiri yang hebat setelah mampu menghadapi kesulitan. Untuk itu ia memberikan tugas yang membuat 30 mahasiwanya mengeluh pada mulanya.
       Pada mata kuliah ini, sang profesor memberikan tugas pada setiap mahasiswanya untuk membuat paspor saat pertama kali masuk. Selanjutnya mereka diharuskan untuk pergi ke luar negeri selama satu kali pada saat mengambil mata kuliah ini dengan beberapa syarat tertentu. Pertama, mahasiswa harus pergi seorang diri. Kedua, mereka tidak boleh pergi ke negara yang menggunakan bahasa Melayu seperti Malaysia dan Singapura. Ketiga, satu negara hanya boleh dikunjungi maksimal oleh dua orang dan tidak boleh pergi pada waktu yang sama. Bila dua mahasiswa memilih negara yang sama maka mereka harus pergi pada waktu yang berbeda dengan kota tujuan berbeda pula.
     Tentu ini bukan tugas yang mudah apalagi tidak semua mahasiswa berasal dari keluarga kaya. Masalah biaya sudah pasti menjadi kendala awal. Banyak mahasiswa yang sampai berdagang, ikut lomba, menabung atau mengajukan proposal pendanaan. Selain itu, hal tersebut memicu perdebatan di antara orang tua mahasiswa. Para orang tua khawatir kalau anaknya hilang saat di luar negeri atau kesasar. Pihak internal dan para dosen lain juga turut khawatir karena para mahasiswa juga harus meninggalkan mata kuliah lain selama melakukan perjalanan ke luar negeri. Tapi sekali lagi sang dosen menegaskan bahwa mahasiswa itu perlu diajarkan kehidupan sesungguhnya, salah satunya dengan melepas mereka ke negeri asing dan mengkondisikan mereka dalam keadaan “kesasar”.
   Menurut Rhenald Kasali, dengan bepergian sendirian ke tempat asing, akan menumbuhkan self driving dalam diri setiap mahasiswanya. Kalau seseorang itu diberikan masalah, pasti akan ada kecenderungan untuk mencari jalan keluar. Inilah yang namanya proses pembelajaran. Pembelajaran di dalam kelas saja tidak akan cukup untuk menghasilkan rajawali yang tangguh. Pembelajaran bukanlah menghafal materi di dalam kelas tapi kemampuan mengembangkan diri dengan cara berpikir kreatif, mandiri, dan berkarakter leadership. Mereka harus dilatih menghadapi aneka kesulitan dan tantangan hidup secara nyata.
     Dimulailah cerita perjalanan para mahasiswa ke luar negeri sesuai negara yang mereka pilih dengan segala suka dukanya. Ada perjalanan Risma yang memilih melakukan perjalanan ke Swiss meski memiliki tumor di tubuhnya. Di Swiss ia berkenalan dengan Virginie, tepat setelah Jakarta yang kabarnya di bom oleh teroris. Meski Virginie beragama berbeda namun Risma tetap menjadi Muslim yang baik dengan menjaga perdamaian. “Aku tidak percaya teroris punya agama. Semoga kamu tidak menganggap kami seorang Muslim adalah teroris. Kami juga menjadi korban,” kata Risma (hal. 6).
   Awalnya Risma mengira bahwa Virginie tidak mau berkenalan dengannya. Dugaannya salah karena ternyata dia justru turut bersimpati atas terjadinya bom di Jakarta. Risma bahkan diajak melihat gereja di sana dan orang-orang bersikap ramah kepadanya, ia diterima meski beragama berbeda. Dia bersyukur bisa sampai ke Swiss dan bisa berkunjung ke Jenewa untuk melihat kantor PBB. Risma juga melihat papan reklame UNICEF, yang mengatakan bahwa masih banyak anak-anak di negara tertinggal yang tidak sekolah, kelaparan dan berpenyakit. Ia bersyukur masih bisa ke luar negeri meski dalam kondisi sakit parah.
      Lain cerita Risma, lain pula cerita Hestia Livana yang memilih pergi ke Jepang. Dengan kemampuannya berbahasa Inggris ia bahkan bisa membantu seorang pedagang di Pasar Tsukiji. Berkat kemampuannya itu ia mampu menarik banyak wisatawan asing  untuk membeli dagangan penjual tersebut. “Bahasa Inggris menjadi senjata andalanku untuk promosi,” kata Hesti (hal.75).
       Meskipun cerita perjalanan masing-masing mahasiswa Rhenald Khasali ini tidak diceritakan secara terperinci setiap langkahnya namun buku ini mampu menginspirasi pembaca untuk berani melakukan perjalanan ke luar negeri seperti mereka. Buku ini juga membuktikan bahwa everything is posible, uang dan kendala bahasa bukan menjadi halangan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.


Dimuat di Samarinda Pos Edisi Sabtu 5 Agustus 2017
Halaman 15

No comments:

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog Ini:
-Dilarang promosi iklan
-Dilarang menyisipkan link aktif pada komentar
-Dilarang komentar yang berbau pornografi, unsur sara, dan perjudian