Sunday, June 5, 2016

Kisah Bakul Ikan Menjadi Menteri





Judul                                       : Untold Story Susi Pudjiastuti
Tim Penulis dan Periset          : A. Bobby Pr, dkk
Penerbit                                   : Kompas
Cetakan                                   : Pertama, 2015
Tebal                                       : 268 Halaman
ISBN                                       :
978-979-709-892-6
  
    Nama Susi Pudjiastuti mulai ramai diperbincangkan di media sosial setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan nama tersebut sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan Kabinet Kerja. Sosok Susi memang kontroversial dibandingkan dengan menteri lain. Salah satunya karena latar belakang pendidikannya yang hanya tamatan sekolah menengah pertama (SMP). Selain itu juga karena sosoknya yang eksentrik karena bertato dan merokok.
    Perempuan kelahiran Pangandaran ini mengawali karirnya sebagai seorang bakul atau pedagang ikan. Berbekal uang sebanyak 750 ribu rupiah hasil menjual gelang keroncong, kalung, serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak banyak wanita Pangandaran sebagai bakul ikan (halaman 29). Ia menjalankan usahanya mulai dari bawah. Ia mulai dengan menggunakan sepeda untuk menjajakan dadar gulung dari kampung ke kampung, sampai dengan membeli ikan dari para nelayan di pelelangan ikan untuk kembali dijual. 
    Keterampilannya sebagai bakul ikan semakin terasah setelah Susi menikah dengan Yoyok Yudisuaryo, suami pertamanya, pada bulan Mei 1983. Selain pekerja keras, Susi memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia ingin tahu semuanya. Dari proses pembelian, packing, hingga sampai proses pemasaran. Usaha mereka sebagai bakul ikan terus menanjak seiring kerja keras yang mereka lakukan berdua. Pembeli semakin meningkat. Namun sayang kehidupan rumah tangga Yoyok-Susi tak berlangsung lama. Meski telah lahir Panji Hilmansyah, anak mereka, rumah tangga ini hanya mampu bertahan selama 3 tahun. Perceraian ini tidak memutuskan tali silaturahmi mereka. Yoyok masih menjalin hubungan baik dengan Susi dan keluarga besarnya hingga kini (halaman 35).
  Setelah bahtera rumah tangganya kandas, Susi mulai mengembangkan usahanya. Tahun 1996 ia mendirikan pabrik pengolahan ikan dengan nama PT ASI Pudjiastuti Marine Product. Setahun kemudian, sebagai pengusaha produk hasil laut, Susi mampu menembus pasar Asia, Jepang, dan mulai menjajaki pasar Eropa dan AS. 
     Pada tahun 1999, Susi mulai menyusun proposal pinjaman dana ke bank untuk membeli pesawat yang akan mengangkut produk laut. Setelah 4 tahun bolak-balik mengajukan proposal, ada pengusaha nasional yang memahami ide gilanya dan bersedia mengucurkan dana. Ide itu baru terwujud tahun 2004. Susi membeli sebuah Cessna Caravan seharga 20 miliar rupiah menggunakan pinjaman bank. Melalui PT ASI Pudjiastuti Aviation yang ia dirikan kemudian, satu-satunya pesawat yang ia miliki itu ia gunakan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di berbagai pantai di Indonesia ke pasar Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu adalah Susi Air.
    Selain membawa hasil laut, sering kali Susi Air membawa penumpang ketika ada kursi kosong. Dalam perkembangannya, peminatnya semakin banyak sehingga Susi kemudian memutuskan untuk membentuk maskapai komersial yang tidak hanya mengangkut hasil laut saja. Tahun 2005, Susi telah memiliki 3 buah pesawat sehingga Susi Air dapat memulai penerbangan berjadwal dari Medan ke beberapa tempat. Selanjutnya Susi Air melayani penerbangan komersial rute perintis, angkutan kargo, dan penerbangan carter. Pada tahun 2014, armada Susi Air sudah berjumlah 49 unit. 
     Kemudian sejak awal Oktober 2014, beberapa pekan sebelum pengumuman awak Kabinet Kerja, nama Susi Pudjiastuti sudah menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hingga pada tanggal 29 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo mengumumkan nama Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Kerja.
     Sebelumnya banyak orang meragukan kemampuan Susi dalam menjalankan tugasnya sebagai menteri. Bahkan seorang profesor secara terbuka menilai Susi tidak layak menjadi seorang menteri, terlebih untuk memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun, Susi mampu menunjukkan eksistensi dirinya. Sebagai seorang yang memiliki kematangan sosial ia mampu membuat terobosan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang ia keluarkan sebagai menteri. 
     Salah satu kebijakan yang ia buat adalah kebijakan moratorium izin kapal dan menenggelamkan kapal asing yang masuk tanpa izin (halaman 114). Penenggelaman kapal asing yang tidak berizin ini dapat menjadi shock therapy. Hal ini menimbulkan efek positif bagi nelayan, harga ikan menjadi naik dan ada banyak ikan tersedia.
    Buku ini tidak hanya mengulas kisah Susi Pudjiastuti dari seorang bakul ikan hingga menjadi seorang menteri saja tetapi buku ini juga menyajikan opini tentang Susi Pudjiastuti dari beberapa orang yang mengenalnya dari dekat. Contohnya seperti Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, pengasuh Susi waktu kecil, dan beberapa teman sewaktu sekolah dulu. Melalui buku ini pembaca akan lebih tahu tentang sosok Susi Pudjiastuti, sosok perempuan yang kuat, selalu out of the box, dan mampu jadi role model bagi perempuan Indonesia untuk mencapai kesuksesan. 

Resensi ini dimuat di Harian Nasional edisi tanggal 4-5 Juni 2016

n  .

No comments:

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog Ini:
-Dilarang promosi iklan
-Dilarang menyisipkan link aktif pada komentar
-Dilarang komentar yang berbau pornografi, unsur sara, dan perjudian