Saturday, September 23, 2017

Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 142



Episode dimulai dengan Badi yang akhirnya berhasil membujuk Naku untuk kembali ke acara perayaan. Dutta menatap Naku dan berkata dalam hati, “Kaulah yang mengajariku cara baru untuk mengetahui seseorang. Apa kau ingin pergi jauh dariku Naku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi menjauh dariku Naku.”

“Hei...ada lagi yang mau maju tidak?” teriak Baji

Kishore berkata, “Tunggu dulu, akulah sekarang yang akan maju, Kishore.”

Pertandingan ini pun akhirnya masih dimenangkan oleh Baji. Baji semakin besar kepala saja. 

Hei kak Dutta, kau mau maju atau tidak? Kau takut?

Dutta tersenyum dan akhirnya dia maju ke depan.

Berhati-hatilah kak, kau tidak akan bisa mengalahkanku. Jadi aku rasa kau tidak memiliki keberanian untuk mengatakan perasaanmu pada Naku. 

Dutta segera mengambil satu butir kelapa. Berapa banyak kelapa yang sudah kau hancurkan?

Tiga kak....kalau kelapamu hancur berarti semuanya.....

Ayolah mulai.....

Baji menghitung satu...dua....dan....akhirnya kelapa Baji yang pecah. Dutta tersenyum dan memandang Naku yang bersembunyi di belakang ibunya. Dutta meminta Baji mengambil satu kelapa lagi dan mencobanya lagi. Lagi-lagi Dutta yang menang. Naku tersenyum melihat Dutta yang menang. Kemudian Dutta memecahkan kelapa yang membuatnya menang dengan membenturkannya ke lantai dan mempersembahkannya pada Ganesha.

Bagaimana kak? Kau sudah menang di kompetisi kelapa tapi bagaimana taruhannya? Kak, kalau hanya menatapnya saja kau akan kalah.

Hari ini adalah hariku Baji. Aku tidak akan kalah.

Ya, itulah mauku...

Hari ini Dia akan membuatku menang. Dutta berjalan ke arah Naku dan mengulurkan tangannya pada Nakusha. Naku menaruh tangannya di atas tangan Dutta. Dutta membawa Naku untuk berdiri di tengah-tengah semua orang yang memperhatikan mereka. Semua orang yang duduk akhirnya berdiri. Kala semakin cemas.

Dutta mulai dialognya dengan lembut. Hari ini adalah hari kelapa. Hari ini dipercaya juga kalau kau berikan kelapa pada laut maka laut pun akan tenang. Aku juga ingin bisa tenang bersama dengan laut itu. Bertahun-tahun aku lari tapi hari ini aku sudah melihat tujuanku mau ke mana. Kebahagiaan ini, ketenangan ini hanya ada karena dirimu saja Naku. Aku ingin minta maaf padamu Naku atas penghinaan padamu di rumah ini, untuk keterpaksaan dan semua hukuman yang pernah aku berikan. Dutta melipat kedua tangannya di hadapan Naku. Aku mohon maafkan aku. Aku ingin katakan pada semua bahwa aku selalu benar dan keraguankulah yang salah tapi kau selalu memberikan cintamu dan tidak pernah meminta apa pun. Hari ini aku ingin memberikan segalanya yang merupakan hakmu sendiri. Meski ada banyak hal yang terjadi, aku ingin menjadikan hukuman ini sebagai motivasi dalam hidupku. Maka sekali lagi, di depan semua orang yang ada di sini, dengan semua ritual, aku ingin melamarmu. Maukah.....kau menikah denganku? Dengan senyum Dutta mengulurkan tangannya pada Naku. Naku hanya terpaku diam. Baji memanggil namanya dan meminta Naku untuk menjawab iya. Naku menangis dan langsung pergi meninggalkan Dutta dan semua orang di ruangan itu. Dutta yang masih mengulurkan tangan menatap Naku yang pergi melewatinya. Nampak kesedihan yang dalam di matanya. Semua orang bingung dengan sikap Naku.

Naku pergi ke kamarnya dan menangis di tempat tidur. Baji datang menyusulnya. Naku, kendalikan dirimu Nak! Tuhan akhirnya sudah menjawab doa ibu. Hari ini Tuhan telah memberi balasan cintamu itu. Sudah lama ibu menantikan hari ini untuk bisa melihat cinta sejatimu. Bukannya kebencian atau kemarahan. Hari ini ibu bisa melihat cinta sejati di mata Tuan Dutta. Iya Naku, hari ini yang bicara bukan Dutta tapi hatinya. Cintamu yang menang tapi kau lari dari takdirmu dan kau malah sembunyi di sini. Kenapa Naku, kenapa?

Ibu, takdir apakah yang ku miliki. Aku telah menutup takdirku dengan abu dan merubah mimpiku menjadi hitam. Aku tidak bisa menjalani hidup dengan kepalsuan. Aku tidak akan bisa hidup ibu. Ibu bilang padaku bahwa aku layak untuk kepercayaan dan cintanya tuan tapi ibu tidak tahu untuk kepercayaan dan cintanya itu aku benar-banar tidak layak ibu. Aku tidak layak . Naku terus menangis.

Tidak Naku, besok tuan mungkin akan menderita. Kau ingin menyelamatkan tuan dari itu kan, tapi hari ini kau mau membuat tuan menderita? Hah?

Ibu, aku tahu aku telah membuat tuan sedih tapi ini lebih baik daripada berkhianat. Ibu, tuan akan memaafkan ini dalam satu atau dua hari tapi penghianatan....ibu,,,tuan tidak bisa terima penghianatan. Kalau dia membenciku tidak masalah tapi akulah yang akan hancur kalau karena aku tuan jadi membenci kehidupan.

Lalu dari mana ibu bisa memberikan kekuatan padamu Naku? Ibu hanya memberikan masalah saja selama hidupmu. Selama hidup ibu menjalani hidup dengan mengkhawatirkanmu saja. Ibumu ini menuliskan semua ketakutan di dalam hidupmu. Ibumu minta maaf nak, maafkan ibumu ini. Keduanya menangis dan Naku memeluk ibunya itu. 

Dutta kembali ke kamarnya dan dia tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini. Hatinya sangat hancur. Dia mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke dinding. Kenapa Nakusha? Kenapa?Sampai saat ini tidak pernah ada kebohongan di matamu. Kau sudah membuat kesalahan dengan mengerti ini Dutta.

Dutta berjalan dan mengampil pisau untuk anak panah yang ada di mejanya. 


Selanjutnya: Sinopsis Nakusha (Laagi Tujhse Lagan) Episode 143



m

No comments:

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog Ini:
-Dilarang promosi iklan
-Dilarang menyisipkan link aktif pada komentar
-Dilarang komentar yang berbau pornografi, unsur sara, dan perjudian