Thursday, September 7, 2017

Cara Menjaga Jiwa agar Selalu Bahagia

Dimuat di Koran Jakarta edisi 5 September 2017



Judul           : Jiwa Bahagia
Penulis        : Sigit Risat
Penerbit      : Transmedia
Cetakan      : 2016        
Tebal          : xii + 188 Halaman
ISBN          : 978-602-1036-23-5

    Kebahagiaan adalah yang paling dicari oleh manusia. Semua yang manusia inginkan pasti berujung pada keinginan untuk bahagia. Kebahagiaan itu bisa dimiliki oleh siapa pun. Tidak memandang apa pun agama yang dianutnya, profesi, jenis kelamin, latar belakang pendidikannya atau seberapa banyak jumlah hartanya. Bahagia bisa menjadi milik siapa pun sesuai dengan kondisi jiwanya masing-masing.
    Menjaga agar selalu berpikir positif dalam segala situasi dapat mendatangkan jiwa bahagia. Apa yang dibayangkan di alam pikiran seseorang, secara otomatis akan bermetamorfosis menjadi perasaan dan tindakan. Bahasa tubuh pun akan terpengaruh oleh apa yang ada di pikiran. Menurut Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen dalam buku yang berjudul The Aladdin Faktor mengungkapkan sebuah fakta penting. Ternyata setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran.
    Bila kita mengondisikan mayoritas pikiran itu dengan negatif maka dampaknya bagi perasaan dan sikap kita juga menjadi negatif. Namun bila kita berhasil mengondisikan mayoritas pikiran kita menjadi positif maka perasaan dan sikap kita pun akan positif. Setiap orang adalah pelukis bagi kehidupannya sendiri. “Lukisan” hidup seperti apa yang kita lihat dan rasakan saat ini, itu berasal dari pikiran kita sendiri (hlm 15). Oleh karena itu salah satu kunci dari jiwa bahagia adalah dengan selalu berpikir positif.
   Contoh cara berpikir positif dapat diambil dari kisah Pygmalion, seorang tokoh mitologi Yunani yang berprofesi sebagai pembuat patung. Suatu ketika datang seorang pembeli yang menawar patung buatannya dengan harga tidak wajar. Teman-teman sesama pematung merasa tersinggung karena orang itu menawar dengan harga sangat rendah. Namun Pygmalion berkata, “Dia tertarik dengan karya kita, tapi uangnya mungkin hanya cukup untuk membeli kebutuhan penting lainnya.” Pygmalion melihat segala sesuatunya dari sudut pandang positifnya. Seburuk apa pun situasinya, ia selalu berhasil melihat dari sudut pandang yang berbeda.
    Kunci lain untuk meraih jiwa bahagia adalah selalu memiliki rasa syukur atas apa yang telah didapatkan. Seperti dalam kutipan Injil Matius yang berbunyi “Siapa yang memiliki akan diberi lebih banyak dan ia akan memiliki kelimpahan. Siapa yang tidak memiliki maka apa yang dimilikinya akan diambil darinya.” Yang dimaksud dalam kutipan ini bukan orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Maksud sesungguhnya kutipan ini adalah bahwa siapa yang memiliki rasa syukur akan diberi banyak dan ia akan memiliki kelimpahan. Sementara yang tidak memiliki rasa syukur maka apa yang dimilikinya akan diambil darinya (hlm 19).
     Di dalam Alquran juga ada sebuah ayat yang sangat tegas menyebutkan ini. Janji dari Allah SWT yang berbunyi “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” Bersyukur akan membuat jiwa bahagia karena fokus kita pada hal-hal yang sudah Tuhan berikan. Berbeda dengan mengeluh di mana fokusnya adalah pada hal-hal yang belum dimiliki.
    Menjaga perasaan orang lain juga mampu menumbuhkan jiwa yang bahagia. Seperti yang pernah dilakukan Presiden Perancis, Charles de Gaulle. Ia mengundang makan malam seorang Presiden Afrika ke rumah. Di akhir jamuan, pelayan membawakan mangkuk kecil berisi air hangat untuk para tamu. Mangkuk itu merupakan mangkuk untuk cuci tangan. Tamu dari Afrika tidak mengetahui hal itu karena di negaranya tidak ada kebiasaan seperti itu. Dia meminum air dalam mangkuk tersebut. Tamu lain tersenyum melihat kesalahan tamu dari Afrika tersebut. Tapi de Gaulle dengan berwibawa mengangkat mangkuknya dan berkata, “Tuan-tuan mari bersulang!” Semua tamu yang tadi mengolok-olok pun mengikutinya. Tindakan de Gaulle telah mengajarkan mengenai menjaga perasaan sehingga tamu dari Afrika tidak merasa malu.
    Setiap bab yang ada dalam buku ini memberikan pengetahuan bagi pembaca tentang bagaimana agar jiwa bisa bahagia. Kisah-kisah yang disajikan sebagai contoh sangat mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Melalui buku ini penulis mengajak pembaca untuk berpikir lebih bijak dalam segala situasi. Banyak quote dalam tiap babnya yang mampu menenteramkan dan memberi pencerahan terhadap jiwa.

n

No comments:

Post a Comment

Tata Tertib Berkomentar di Blog Ini:
-Dilarang promosi iklan
-Dilarang menyisipkan link aktif pada komentar
-Dilarang komentar yang berbau pornografi, unsur sara, dan perjudian